Senin, 17 Desember 2012

INISIATIF UNTUK MEMBANGUN DUNIA PIKIR


Rosalia Yenita Widyaningrum
Pendidikan Matematika B / 12709251052


            Kita semua adalah mahkluk ciptaanNya yang sempurna, yang dianugerahi dengan segenap kemampuan yang menjadikan kita istimewa. Kemampuan yang ada dalam diri kita adalah sebuah sarana yang digunakan dalam melengkapi dan mengisi hidup kita. Segala hal yang ada dalam hidup kita tidak terjdi secara otomatis, namun dapat terjadi karena adanya usaha yang kita lakukan. Segala yang kita punya memang anugerah dariNya, namun jika kita tidak berusaha anugerah juga tidak akan datang. Jadi, dapat dikatakan bahwa anugerah adalah hadiah atas usaha kita.
            Segala yang kita punya tidak akan datang secara tiba-tiba jatuh dari langit. Segalanya memerlukan usaha dan juga proses. Demikian halnya dengan pengetahuan yang kita punyai. Suatu pengetahuan yang kita miliki tidak mungkin datang secara tiba-tiba. Kita tahu karena kita berproses. Pengetahuan dapat berasal dari orang lain, dari media dari kehidupan sehari-hari dan juga dapat berasal dari kesalahan yang pernah kita lakukan. Pengetahuan kita tidak akan berkembang jika kita tidak punya inisiatif dan kemauan untuk terus mau belajar. Saya pernah menjadi seorang siswa, dan sekarangpun juga masih menjadi seorang siswa. Jika saya tidak mempunyai kemauan untuk belajar secara mandiri, maka pengetahuan yang saya punya tidak akan berkembang.
            Inisiatif membutuhkan motivasi. Jika kita tidak termotivasi, bagaimana kita akan mempunyai inisiatif. Inisiatif adalah langkah awal dalam membangun pengetahuan kita. Seperti cerita Pak Marsigit yang melakuan supervisi di SMP N 1 Balikapapan. Pada mulanya Pak Masigit belum mengetahui bagaimana kondisi yang ada di sana. Namun dengan inisiatif untuk mendatangi kantor dinas terlebih dahulu, pengetahuan beliau sedikit demi sedikit mulai berkembang. Terlebih lagi ketika menyaksikan bagaimana proses pembelajaran yang ada disana. Semakin lama pengetahuan beliau tentang SMP N 1 Balikpapan semakin berkembang, jika diumpamakan seperti pohon yang daunnya tumbuh subur dan sudah berbuah. Dengan demikian, Pak Marsigit memperoleh pengetahuannya melalui inisiatif. Hal itulah yang disebut dengan konstruktivisme.
            Dengan cerita dari beliau, yang dapat saya tangkap adalah bahwa pengetahuan itu berdimensi, pengetahuan itu berproses, dan pengetahuan itu memerlukan insiatif. Pengetahuan itu berproses, karena tahap kita mengetahui juga berproses. Pengetahuan itu memerlukan inisiatif karena inisiatif adalah langkah awal dalam membangun konstruksi pengetahuan dalam diri kita.
            Dengan adanya inisiatif yang ada, kita tidak hanya sekedar menjadi pengikut saja, namun kita juga mempunyai pendirian. Dengan pengalaman, kita dapat membentuk inisiatif dan kemudian dapat mengkonstruksi pengetahuan yang ada dalam diri kita sehingga menjadi semakin besar dan berkembang. Dengan demikian, pengetahuan yang kita miliki tidak bersifat statis dan mandeg, namun terus mengalami perkembangan dan semakin menjadikan kita makhluk ciptaanNya yang istimewa. Semoga kita dapat menjadi manusia yang semakin baik dari hari ke hari dan nantinya kita sebagai guru juga dapat semakin berinisiatif dalam menciptakan pembelajaran yang membuat siswanya berani untuk berinisiatif.

Pertanyaan :
Apakah inisiatif juga bersifat trial and error? Maksudnya bagaimana jika inisiatif kita ternyata berada di jalan yang salah.

Senin, 03 Desember 2012

BERBAHAGIALAH YANG TIDAK MELIHAT NAMUN PERCAYA


Rosalia Yenita Widyaningrum
Pendidikan Matematika B/ 12709251052


            Kita sebagai manusia beriman pastilah percaya bahwa kita adalah makhluk ciptaan Tuhan yang sempurna. Mengapa sempurna? Jawabannya adalah karena kita makhluk ciptaanNya yang terlahir dengan anugerah isimewa yang tidak dimiliki oleh makhluk lain. Manusia mempunyai akal pikiran yang tidak dimiliki hewan atau tumbuhan. Manusia memiliki akal dan pikiran yang membuatnya mampu berpikir tentang mana yang baik dan mana yang buruk. Dengan anugerah yang ada, janganlah manusia menjadi sombong dan merasa berkuasa atas makhluk ciptaan lain karena kesombngan adalah kesalahan besar yng menyebabkan manusia jatuh ke dalam dosa.
            Sebagai makhluk yang berakal pikiran, kita juga harus beriman supaya apa yang kita pikirkan dan kita lakukan tidak bertentangan dengan ajaranNya. Agama adalah sarana manusia dalam  mengenal Tuhan dan memahami segala perintah dan laranganNya dan doa adalah sarana manusia dalam berkominikasi dengan Sang Pencipta.Walaupun ada berbagai macam agama, saya percaya bahwa semuanya baik dan semuanya mengajarkan kebenaran dan keimanan kita terhadap Tuhan. Agama adalah sarana manusia dalam mendekatkan diri pada Tuhan dan mengenal ajaranNya.
            Kita tahu bahwa Tuhan itu Sang Pencipata yang menguasai segala yang ada di dunia ini. Ajaran agama pastilah telah mengajarkan umat manusia untuk selalu berbakti dan percaya padaNya. Diantara makhuk ciptaan yang lain, pastilah ada yang tidak percaya padaNya. Tidak semua manusia percaya pada Tuhan. Merekalah yang disebut atheis. Mungkin mereka tidak percaya karena mereka memang tidak pernah bertatapan muka denganNya. Dengan adanya alasan tersebut, mereka tidak percaya bahwa ada yang menguasai seuruh kehidupan di muka bumi ini.
            Mungkin kita juga belum pernah bertemu langsung dengan Tuhan. Namun mengapa kita percaya? Mengapa doa-doa kita juga selalu dipanjatkan kepadaNya, padahal kita juga belum pernah bertemu langsung dan belum pernah bertatapan muka denganNya. Sisi sprirtualitas kita yang akan menjawabnya. Saya juga belum pernah bertemu langsung dengan Tuhan dan juga orang-orang kudus yang ada di surga, namun dengan segenap hati saya, saya percaya sepenuhnya bahwa mereka ada. Hal inilah yang juga menjadi kepercayaan manusia beriman yang lainnya, tanpa memandang agama yang dianutnya. Agama hanyalah sarana, namun semuaya mempunyai tujuan yang sama.
            Bagaimana kita mempercayai mereka yang sudah tiada dan belum pernah kita lihat bentuk fisiknya. Keyakinan hati dan ituisi yang membawa kita untuk percaya sepenuhnya pada Tuhan. Hal ini juga didukung dengan apa yang termuat di dalam kitab suci, kitab suci ajaran apapun akan mengajarkan kebaikan dan ajaran-ajaranNya dan dengan kitab suci tersebut kita bisa semakin mengenalNya. Keyakinan terhadap Tuhan diawali dengan intuisi yang kita tidak tahu kapan dimulainya keyakinan tersebut di dalam diri kita.
            Dengan adanya ajaran Tuhan, kita sebagai manusia di dunia ini juga selayaknya selalu bersandar padaNya. Doa adalah sarana komunikasi dengan Tuhan. Kepercayaan kita lah yang membuat kita yakin bahwa Dia selalu mendengar doa kita, dan kepercayaan kita lah yang membuat kita yakin bahwa Dialah sang sutradara dalam kehidupan kita. Jangan lah keimanan kita hanya menjadi mitos dalam hidup kita. Kita harus tahu dan yakin untuk apa kita perlu berdoa. Keyakinan kitalah yang akan membantu menjawab semuanya. Kita tidak perlu bertemu dengan Tuhan untuk percaya padaNya. Yang harus kita lakukan adalah senantiasa berbuat baik sesuai dengan ajarannya, karena pada dasarnya percuma jika kita selalu berdoa dengan khusyuk namun perbuatan kita tidak selaras dengan ajaranNya. Dengan hal ini, keimanan kita hanyalah akan menjadi mitos karena iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati. Semoga kita sebagai makluk Tuhan selalu percaya padaNya dan selalu menghadirkan Tuhan di dalam hati kita lewat segenap perbuatan kita terhadap Tuhan dan sesama. Berbahagialah yang tidak melihat namun percaya. Amin...

Pertanyaan :
Apakah keimanan kita itu dapt diukur? Ataukah kita tidak perlu memikirkan tersebut karena yang perlu kita lakukan adalah terus beriman dan  berbuat baik seturut kehendakNya?
           

Senin, 26 November 2012

SANG POWERNOW, DALANG SISTEM PENDIDIKAN INDONESIA



Rosalia Yenita Widyaningrum
Pendidikan Matematika B / 12709251052



            Keberhasilan suatu bangsa tidak akan terlepas dari sistem pendidikan yang ada di negara tersebut. Sumber Daya Manusia yang berkualitas akan menjadi donatur bagi perkembangan suatu bangsa ke arah pembangunan yang lebih baik. Berkualitas yang dimaksudkan adalah berkualitas bukan dari segi IQ nya saja, namun juga berkualitas dari segi EQ dan juga spiritualnya. Akan sangat bijak jika orang itu pandai bukan dari ilmunya saja, namun juga pandai dari segi sikap dan spiritualnya. Dalam hal ini, intuisi menjadi sangat penting untuk dikembangkan. Intuisi mengambil peran yang besar dalam perkembangan manusia. 90% pikiran anak-anak dipengaruhi oleh intuisi, dimana anak-anak akan berusaha  untuk mengenali segala sesuatu yang ada di lingkungannya dengan menggunakan intuisi. Anak-anak belajar dengan caranya sendiri dan anak-anak belajar lewat dunianya yaitu dunia bermain. Dari permainan-permaninan itu  anak-anak juga sedang berada dalam proses belajar. Singkatnya, anak-anak memang seharusnya belajar dengan cara yang memang sesuai dengan tingkat pikir dan juga dunianya.
            Alangkah baiknya jika dunia pendidikan di negara kita juga dikomandani oleh sesoorang yang memang berkompeten di bidang pendidikan. Kenyataan yang terjadi di negara kita bahwa sang komandan dari sistem pendidikan di Indonesia adalah orang yang berasal dari Ilmu dasar non kependidikan. Bagaimana jadinya orang yang kurang berkompeten di bidang pendidikan mengatur masalah pendidikan dalam suatu lingkup negara? Pada akhirnya banyak kebijakan yang melenceng dari dasarnya.  Di negara Powernow Amerika, anak-anak sudah dituntut untuk mempunyai pemikiran layaknya seorang matematikawan, padahal anak-anak pastilah belum siap untuk diberikan hal seperti itu. Dunia anak adalah bermain, biarlah mereka juga akan belajar lewat dunianya. Dari segi filsafat, anak-anak dengan perlakuan yang demikian akan kehilangan intuisinya. Padahal dari intuisi anak-anak juga akan berkembang kepribadiannya.
            Pendidikan matematika di negara kita juga dikuasai oleh powernow. Kurikulum yang berkembang juga akan semakin memantapkan langkah powernow. Sang pembuat kurikulum di negara ini juga berasal dari golongan ilmu dasar, yang merupakan bagian dari langkah powermow. Golongan ilmu dasar akan mengutamakan kemampuan ilmu yang diperoleh tanpa melihat subjeknya. Seperti contoh, kebijakan menteri pendidikan yang akan mengganti kurilukulum dengan basis teknologi. Saya merasa dengan hal tersebut anak-anak akan menonjol di bidang ilmunya, namun apakah kemampuan intuisinya juga akan berkembang? Bagi kaum ilmu dasar, mungkin ketrampilam menyanyi, menari dan ketrampilan yang lainnya tidak penting untuk diterapkan dalam pendidikan, padahal anak-anak juga perlu menggapai kesenangannya. Apa jadinya jika anak-anak sudah dilatih untuk kehilangan intuisinya dan hanya memikirkan ilmu intelektualnya saja? Apalah anak-anak nantinya akan tumbuh menjadi anak-anak yang berintelektual tinggi namun perasaan dan kepribadiaany akan bernilai nol?
            Alangkah seimbangnya jika kaum murni akan berdampingan degan kaum pendidikan, sehingga  kebijakan yang dikeluarkan juga bukanlah kebijakan yang hanya memancarkan kekuasan powernow. Kita tidak menyalahkan berkembangnya ilmu-ilmu dasar, namun yang disayangkan adalah mengapa kaum ilmu dasar juga mencampuri urusan pengambilan kebijakan di bidang pendidikan yang kiya tahu mereka tidak berkompeten di bidang itu. Akibatnya kebijakan yang diambil pun tidak memperhatikan unsur psikologis pendidikan subyek didik. Dari segi filsafatnya, kebijakan pendidikan yang diambil belum memperhatikan sisi intuisi siswa. Idealnya dalam hal pendidikan, ilmu murni harusnya menjadi pendukung ilmu pendidikan dan ilmu pendidikan yang menjadi komandannya. Tetapi yang terjadi sekarang adalah ilmu murni yang menjadi komandaanya, dan pendidikan menjadi hal sampinganya.  
            Sangatlah sulit untuk terbebas dari kekuasaan powernow, karena kita juga masih bergantung pada kekuasaan mereka. Kita tidak bisa lepas dari produk-produk teknologi yang ada. Dalam dunia pendidikan, kekuasaan pun masih dipegang leh kaum powernow. Mungkin di negara kita, sisi pendidikan akan tetap hanya menjadi bagian dari kekuasaan ilmu dasar. Untuk meminimalisir hal tersebut, tugas kita sebagai pendidik adalah tetap berperan aktif dalam menciptakan strategi dalam menciptakan pembelajaran yang seimbang antara teori dan prakteknya. Kita sebagai guru juga tidak hanya mengajar, namun juga harus mendidik. Kita harus menjadi benteng pertahanan agar intuisi siswa tidak hilang begitu saja termakan oleh kekuasaan powernow. Kita tentunya juga tidak rela jika bangsa ini hanya intelektualnya saja, yang hanya pintar di otak tapi tidak bisa mengolah rasa. Sangat ideal jika sumber daya manusia yang ada tidak hanya pintar secara ilmunya, tapi juga masih bisa mengembangkan sikap-sikap yang baik.
            Semoga refleksi ini dapat dijadikan sebagai arah jalan kita dalam bersikap sebagai guru yang baik, karena kita bukan guru instan yang hanya mendapatkan bimbingan dua bulan untuk menjadi guru. Semoga bermanfaat. 

pertanyaan :
1. Langkah konkrit apakah yang  dapat dilakukan guru agar intuisi siswa tidak hilang begitu saja, karena kenyataannya  guru harus mengejar materi yang cukup banyak dengan waktu yang singkat?

Selasa, 13 November 2012

Dua Hati Dua Cerita Satu Tujuan



Erlina Dwi Prasekti                 (12709251059)
Rosalia Yenita Widyaningrum (12709251052)
                                   
Dua Hati Dua Cerita Satu Tujuan 

  
Ini adalah hasil wawancara saya dengan Sdri, Erlina Dwi Prasekti. Kami memberinya judul Dua Hati Dua Cerita Satu Tujuan. 

Bagaimana jika apa yang kita harapkan tidak sesuai dengan kenyataan, padahal kita merasa usaha yang kita lakukan sudah maksimal? Bagaimana kita seharusnya menyikapi hal tersebut?

     Jawaban:
Harapan tidak sesuai dengan kenyataan, itulah yang disebut masalah. Apabila usaha kita sudah maksimal, tapi masih timbul masalah maka teruslah berusaha. Jangan lupa, usaha itu harus disertai dengan doa. Karena bagaimanapun kita berusaha bila tidak diimbangi dengan doa maka tidak akan diridhoi oleh Tuhan. Manusia hanya bisa berusaha, namun pada akhirnya Tuhan yang menentukan.

Tanggapan :
Pertanyaan ini mengingatkan saya terhadap cerita saya sendiri. Terkadang dalam menghadapi ujian, saya telah belajar mati-matian dan memaksimalkan waktu belajar saya dengan harapan saya akan memperoleh nilai yang bagus pada ujian kali ini. Namun ketika hasil ujian dibagikan, nilai yang saya peroleh tidak seperti yang saya harapkan.  Terkadang saya menjadi putus asa dan tentu kecewa. Dari pesan Erlina, saya sadar bahwa jika hasil yang kita harapkan tidak sesuai dengan kenyataan, saya tidak boleh berhenti berusaha. Mungkin dahulu ketika  saya belajar keras, saya telah melupakan kehadiran Tuhan. Pesan ini meningtakan saya untuk selalu berusaha tanpa menyerah, namun juga tetap menyerahkan seluruh usaha saya terhadap Tuhan. 

Bagaimana kita menilai kemaksimalan usaha yang kita lakukan?

Jawaban:
Menurut saya usaha maksimal apabila kita sudah mengoptimalkan segala potensi dan kemampuan yang ada di dalam diri kita. Usaha maksimal juga bisa dinilai dari hasilnya. Bila hasilnya sesuai dengan harapan dan hasilnya maksimal, maka usaha kita telah maksimal. 

Tanggapan :
Saya setuju dengan pendapat Erlina bahwa maksimal itu dapat dilakukan dengan mengoptimalkan potensi kita. Namun bagaimana dengan orang yang memang pada dasarnya pintar, sehingga ketika menghadapi ujian dia tidak perlu belajar terlalu keras. Dengan kapasitas belajar yang biasa-biasa saja, dia dapat mencapai hasil yang maksimal. Sebaliknya orang yang sudah mati-matian belajar namun hasilnya tidlurak maksimal. Jadi apakah hasil dapat mengukur kemaksimalan usaha kita?

Menurut Anda, usaha yang bagaimana yang diridhoi oleh Tuhan YME? Bagaimana jika seseorang yang mencuri, namun hasil curiannya dibagikan kepada orang yang membutuhkan. Apakah kita bisa membenarkan tindakan tersebut?

Jawaban:
Usaha yang diridhoi oleh Tuhan adalah usaha untuk mencapai tujuan yang tidak bertentangan dengan perintah Tuhan. Selain itu juga usaha itu dilakukan dengan cara yang baik dan benar, dalam arti tidak bertentangan dengan perintah Tuhan. Meskipun tujuannya baik, bila jalannya tidak baik maka tidak akan dibenarkan.
Maka dari itu bila ada seseorang yang mencuri tapi hasilnya untuk dibagikan itu tidak dibenarkan. Tidak ada ajaran apapun yang membenarkan orang mencuri. Ketika dia mencuri, maka dia sudah bertentangan dengan perintah Tuhan. Berarti mencuri itu tidak dibenarkan, baik itu secara keyakinan maupun norma masyarakat. 

Tanggapan :
Memang benar tidak ada ajaran agama manapun yang mengajarkan untuk mencuri, walaupun itu dilakukan dengan alasan kebaikan. Jadi, ajaran agama harus kita pegang teguh sebagai pedoman hidup kita. 

Mengapa hidup adalah usaha?

 Jawaban:
Hidup itu merupakan usaha untuk menggapai apa yang ada dan yang mungkin ada. hal yang ada dan yang mungkin ada itu tidak akan habisnya untuk kita gapai. Sepanjang hidup orang akan berusaha menggapai segala hal itu. Orang berusaha maka ia hidup dan bila orang berhenti berusaha maka ia tidak hidup (mitos). Hidup juga adalah usaha untuk mempertahankan hidup. Maka orang yang putus asa berarti ia tidak hidup. 

Tanggapan:
Pendapat Erlina mengingatkan saya bahwa usaha juga dalam hidup juga sebagai ikhtiar kita sebagai manusia. Ikhtiar adalah salah satu tugas kita sebagai manusia di dunia. 

Bagaimana Anda menilai bahwa usaha adalah suatu proses untuk menuju ke arah yang lebih baik?

Jawaban:
Untuk menggapai apa yang kita inginkan adalah dengan berdoa dan berusaha. Bila kita berusaha untuk menggapai apa yang kita inginkan berarti kita hidup. Usaha kita akan menunjukkan kita mengada. Bila kita terus memikirkan tujuan kita maka kita akan terus memperbaiki hal yang sudah kita capai. Hal itu akan memperbaiki apa yang telah kita lakukan agar menjadi lebih baik. 

Tanggapan :

Hal ini mengingatkan saya pada elegi-elegi yang pernah saya baca. Bahwa hidup kita di dunia ini hanya berusaha menggapai keberhasilan, karena keterbatasan kita sebagai manusia. Usaha kita adalah kegiatan kita dalam berusaha menggapai.

Bagaimana Anda menilai orang yang lebih mementingkan hasil daripada proses? Karena toh tujuan akhir dari proses yang kita lakukan adalah untuk mencapai hasil?

Jawaban:
Tujuan dari suatu proses memang hasil. Akan tetapi bila dicapai dengan proses yang tidak benar maka hasilnya akan dianggap tidak benar. Orang bisa menggunakan segala cara untuk mencapai tujuannya, baik itu dengan cara yang benar maupun tidak benar. 

Tanggapan :
Proses itu adalah rangkaian kita dalam berusaha menggapai apa yang kita ingin capai, tentunya dalam artian hal yang positif. Saya setuju dengan pendapat Erlina karena dengan berproses kita telah belajar. 

Apakah meramal masa depan itu dapat dinilai sebagai usaha yang mendahului kuasa Tuhan?

Jawaban:
Kita dapat menggapai segala yang ada dan yang mungkin ada dengan berusaha dan berdoa. Dengan demikian, ketika kita boleh saja meramal segala hal yang ada dan yang mungkin ada itu. Tapi kita jangan terlalu percaya dengan hal tersebut. Karena bagaimanapun segala sesuatu itu ditentukan oleh Tuhan. 

Tanggapan :
Acara ramal-meramal biasanya disiarkan di televisi menjelang pergantian tahun. Saya juga jadi bertanya-tanya, apakah hal tersebut dinilai sebagai hal yang mendahului kuasa Tuhan. Jawaban Erlina ada benarnya juga. Walaupun manusia dapat meramalkan, namun kita tetap berpegang teguh kepada kuasa Tuhan. Dialah yang akan menentukan segalanya. 

Bagaimana kita harus bersikap  supaya apa yang telah kita lakukan tidak hanya menjadi mitos belaka?

Jawaban:
Agar tidak menjadi mitos, maka kita tidak bisa diam. Kita harus terus berpikir apakah yang telah kita lakukan itu benar. Dengan begitu kita akan terus memperbaiki kualitas dari tindakan dan tujuan kita. 

Tanggapan :
Mitos adalah berhentinya usaha kita. Agar tidak menjadi mitos belaka, kita berkewajiban untuk semakin mengembangkan diri kita agar pengetahuan yang kita punya tidak hanya menjadi sesuatu statis kemudian pada akhirnya kita melupakan hal tersebut. Jawaban Erlina mengingatkan saya untuk tidak berhenti berusaha. 

 Apakah usaha-usaha yang kita lakukan ada batasannya? Jika ada, kapan kah kita akan berhenti berusaha?

Jawaban:
Tidak ada batasan untuk berusaha. Ketika kita berhentu berusaha maka usaha kita akan menjadi mitos. Jika kita merasa bahwa usaha kita sudah maksimal dan kita merasa puas dengan hasilnya, maka hasilnya itu akan menjadi mitos belaka karena kita telah berhenti untuk memikirkannya dan mengusahakannya. Ketika kita berpikir tentang hasilnya maka kita tidak akan merasa puas dengan pencapaian kita. Dengan itu maka kita akan terus berusaha untuk memperbaikinya. Hidup adalah memikirkan hal yang ada dan yang mungkin ada. sehingga sepanjang hidup kita tidak akan habis untuk memikirkan hal yang ada dan yang mungkin ada. maka dari itu tidak akan ada habisnya usaha kita untuk menggapai hal yang ada dan yang mungkin ada itu.

Tanggapan :
Jawaban Erlina kembali mengingatkan saya untuk tidak berhenti berusaha. Usaha tidak ada yang sia-sia. Usaha ada kewajiban kita sebagai mahkluk Tuhan. Terimakasih Erlina. 

Bagaimana kita menjaga keseimbangan antara usaha dan hasil?

Jawaban:
Usaha yang dilakukan dengan seoptimal mungkin maka akan medapat hasil yang maksimal. Agar usaha yang kita lakukan dapat memperoleh hasil yang maksimal, maka teruslah berusaha dan jangan lupa berdoa. Karena manusia hanya bisa berusaha, yang menentukan hasilnya adalah Tuhan. Ketika kita berusaha dengan sepenuh hati, maka Tuhan pasti akan melihat usaha kita. 

Tanggapan
Saya setuju dengan jawaban Erlina. Doa menjadi perantara kita antara usaha dan hasil. Sudah selayaknya kita meminta restu kepada Tuhan agar segala usaha kita adalah usaha baik di hadapanNya. Terimakasih Erlina, semoga kita selalu dapat meningkatkan keimanan kita terhadap Tuhan. Amin.