Senin, 03 Desember 2012

BERBAHAGIALAH YANG TIDAK MELIHAT NAMUN PERCAYA


Rosalia Yenita Widyaningrum
Pendidikan Matematika B/ 12709251052


            Kita sebagai manusia beriman pastilah percaya bahwa kita adalah makhluk ciptaan Tuhan yang sempurna. Mengapa sempurna? Jawabannya adalah karena kita makhluk ciptaanNya yang terlahir dengan anugerah isimewa yang tidak dimiliki oleh makhluk lain. Manusia mempunyai akal pikiran yang tidak dimiliki hewan atau tumbuhan. Manusia memiliki akal dan pikiran yang membuatnya mampu berpikir tentang mana yang baik dan mana yang buruk. Dengan anugerah yang ada, janganlah manusia menjadi sombong dan merasa berkuasa atas makhluk ciptaan lain karena kesombngan adalah kesalahan besar yng menyebabkan manusia jatuh ke dalam dosa.
            Sebagai makhluk yang berakal pikiran, kita juga harus beriman supaya apa yang kita pikirkan dan kita lakukan tidak bertentangan dengan ajaranNya. Agama adalah sarana manusia dalam  mengenal Tuhan dan memahami segala perintah dan laranganNya dan doa adalah sarana manusia dalam berkominikasi dengan Sang Pencipta.Walaupun ada berbagai macam agama, saya percaya bahwa semuanya baik dan semuanya mengajarkan kebenaran dan keimanan kita terhadap Tuhan. Agama adalah sarana manusia dalam mendekatkan diri pada Tuhan dan mengenal ajaranNya.
            Kita tahu bahwa Tuhan itu Sang Pencipata yang menguasai segala yang ada di dunia ini. Ajaran agama pastilah telah mengajarkan umat manusia untuk selalu berbakti dan percaya padaNya. Diantara makhuk ciptaan yang lain, pastilah ada yang tidak percaya padaNya. Tidak semua manusia percaya pada Tuhan. Merekalah yang disebut atheis. Mungkin mereka tidak percaya karena mereka memang tidak pernah bertatapan muka denganNya. Dengan adanya alasan tersebut, mereka tidak percaya bahwa ada yang menguasai seuruh kehidupan di muka bumi ini.
            Mungkin kita juga belum pernah bertemu langsung dengan Tuhan. Namun mengapa kita percaya? Mengapa doa-doa kita juga selalu dipanjatkan kepadaNya, padahal kita juga belum pernah bertemu langsung dan belum pernah bertatapan muka denganNya. Sisi sprirtualitas kita yang akan menjawabnya. Saya juga belum pernah bertemu langsung dengan Tuhan dan juga orang-orang kudus yang ada di surga, namun dengan segenap hati saya, saya percaya sepenuhnya bahwa mereka ada. Hal inilah yang juga menjadi kepercayaan manusia beriman yang lainnya, tanpa memandang agama yang dianutnya. Agama hanyalah sarana, namun semuaya mempunyai tujuan yang sama.
            Bagaimana kita mempercayai mereka yang sudah tiada dan belum pernah kita lihat bentuk fisiknya. Keyakinan hati dan ituisi yang membawa kita untuk percaya sepenuhnya pada Tuhan. Hal ini juga didukung dengan apa yang termuat di dalam kitab suci, kitab suci ajaran apapun akan mengajarkan kebaikan dan ajaran-ajaranNya dan dengan kitab suci tersebut kita bisa semakin mengenalNya. Keyakinan terhadap Tuhan diawali dengan intuisi yang kita tidak tahu kapan dimulainya keyakinan tersebut di dalam diri kita.
            Dengan adanya ajaran Tuhan, kita sebagai manusia di dunia ini juga selayaknya selalu bersandar padaNya. Doa adalah sarana komunikasi dengan Tuhan. Kepercayaan kita lah yang membuat kita yakin bahwa Dia selalu mendengar doa kita, dan kepercayaan kita lah yang membuat kita yakin bahwa Dialah sang sutradara dalam kehidupan kita. Jangan lah keimanan kita hanya menjadi mitos dalam hidup kita. Kita harus tahu dan yakin untuk apa kita perlu berdoa. Keyakinan kitalah yang akan membantu menjawab semuanya. Kita tidak perlu bertemu dengan Tuhan untuk percaya padaNya. Yang harus kita lakukan adalah senantiasa berbuat baik sesuai dengan ajarannya, karena pada dasarnya percuma jika kita selalu berdoa dengan khusyuk namun perbuatan kita tidak selaras dengan ajaranNya. Dengan hal ini, keimanan kita hanyalah akan menjadi mitos karena iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati. Semoga kita sebagai makluk Tuhan selalu percaya padaNya dan selalu menghadirkan Tuhan di dalam hati kita lewat segenap perbuatan kita terhadap Tuhan dan sesama. Berbahagialah yang tidak melihat namun percaya. Amin...

Pertanyaan :
Apakah keimanan kita itu dapt diukur? Ataukah kita tidak perlu memikirkan tersebut karena yang perlu kita lakukan adalah terus beriman dan  berbuat baik seturut kehendakNya?
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar