Senin, 26 November 2012

SANG POWERNOW, DALANG SISTEM PENDIDIKAN INDONESIA



Rosalia Yenita Widyaningrum
Pendidikan Matematika B / 12709251052



            Keberhasilan suatu bangsa tidak akan terlepas dari sistem pendidikan yang ada di negara tersebut. Sumber Daya Manusia yang berkualitas akan menjadi donatur bagi perkembangan suatu bangsa ke arah pembangunan yang lebih baik. Berkualitas yang dimaksudkan adalah berkualitas bukan dari segi IQ nya saja, namun juga berkualitas dari segi EQ dan juga spiritualnya. Akan sangat bijak jika orang itu pandai bukan dari ilmunya saja, namun juga pandai dari segi sikap dan spiritualnya. Dalam hal ini, intuisi menjadi sangat penting untuk dikembangkan. Intuisi mengambil peran yang besar dalam perkembangan manusia. 90% pikiran anak-anak dipengaruhi oleh intuisi, dimana anak-anak akan berusaha  untuk mengenali segala sesuatu yang ada di lingkungannya dengan menggunakan intuisi. Anak-anak belajar dengan caranya sendiri dan anak-anak belajar lewat dunianya yaitu dunia bermain. Dari permainan-permaninan itu  anak-anak juga sedang berada dalam proses belajar. Singkatnya, anak-anak memang seharusnya belajar dengan cara yang memang sesuai dengan tingkat pikir dan juga dunianya.
            Alangkah baiknya jika dunia pendidikan di negara kita juga dikomandani oleh sesoorang yang memang berkompeten di bidang pendidikan. Kenyataan yang terjadi di negara kita bahwa sang komandan dari sistem pendidikan di Indonesia adalah orang yang berasal dari Ilmu dasar non kependidikan. Bagaimana jadinya orang yang kurang berkompeten di bidang pendidikan mengatur masalah pendidikan dalam suatu lingkup negara? Pada akhirnya banyak kebijakan yang melenceng dari dasarnya.  Di negara Powernow Amerika, anak-anak sudah dituntut untuk mempunyai pemikiran layaknya seorang matematikawan, padahal anak-anak pastilah belum siap untuk diberikan hal seperti itu. Dunia anak adalah bermain, biarlah mereka juga akan belajar lewat dunianya. Dari segi filsafat, anak-anak dengan perlakuan yang demikian akan kehilangan intuisinya. Padahal dari intuisi anak-anak juga akan berkembang kepribadiannya.
            Pendidikan matematika di negara kita juga dikuasai oleh powernow. Kurikulum yang berkembang juga akan semakin memantapkan langkah powernow. Sang pembuat kurikulum di negara ini juga berasal dari golongan ilmu dasar, yang merupakan bagian dari langkah powermow. Golongan ilmu dasar akan mengutamakan kemampuan ilmu yang diperoleh tanpa melihat subjeknya. Seperti contoh, kebijakan menteri pendidikan yang akan mengganti kurilukulum dengan basis teknologi. Saya merasa dengan hal tersebut anak-anak akan menonjol di bidang ilmunya, namun apakah kemampuan intuisinya juga akan berkembang? Bagi kaum ilmu dasar, mungkin ketrampilam menyanyi, menari dan ketrampilan yang lainnya tidak penting untuk diterapkan dalam pendidikan, padahal anak-anak juga perlu menggapai kesenangannya. Apa jadinya jika anak-anak sudah dilatih untuk kehilangan intuisinya dan hanya memikirkan ilmu intelektualnya saja? Apalah anak-anak nantinya akan tumbuh menjadi anak-anak yang berintelektual tinggi namun perasaan dan kepribadiaany akan bernilai nol?
            Alangkah seimbangnya jika kaum murni akan berdampingan degan kaum pendidikan, sehingga  kebijakan yang dikeluarkan juga bukanlah kebijakan yang hanya memancarkan kekuasan powernow. Kita tidak menyalahkan berkembangnya ilmu-ilmu dasar, namun yang disayangkan adalah mengapa kaum ilmu dasar juga mencampuri urusan pengambilan kebijakan di bidang pendidikan yang kiya tahu mereka tidak berkompeten di bidang itu. Akibatnya kebijakan yang diambil pun tidak memperhatikan unsur psikologis pendidikan subyek didik. Dari segi filsafatnya, kebijakan pendidikan yang diambil belum memperhatikan sisi intuisi siswa. Idealnya dalam hal pendidikan, ilmu murni harusnya menjadi pendukung ilmu pendidikan dan ilmu pendidikan yang menjadi komandannya. Tetapi yang terjadi sekarang adalah ilmu murni yang menjadi komandaanya, dan pendidikan menjadi hal sampinganya.  
            Sangatlah sulit untuk terbebas dari kekuasaan powernow, karena kita juga masih bergantung pada kekuasaan mereka. Kita tidak bisa lepas dari produk-produk teknologi yang ada. Dalam dunia pendidikan, kekuasaan pun masih dipegang leh kaum powernow. Mungkin di negara kita, sisi pendidikan akan tetap hanya menjadi bagian dari kekuasaan ilmu dasar. Untuk meminimalisir hal tersebut, tugas kita sebagai pendidik adalah tetap berperan aktif dalam menciptakan strategi dalam menciptakan pembelajaran yang seimbang antara teori dan prakteknya. Kita sebagai guru juga tidak hanya mengajar, namun juga harus mendidik. Kita harus menjadi benteng pertahanan agar intuisi siswa tidak hilang begitu saja termakan oleh kekuasaan powernow. Kita tentunya juga tidak rela jika bangsa ini hanya intelektualnya saja, yang hanya pintar di otak tapi tidak bisa mengolah rasa. Sangat ideal jika sumber daya manusia yang ada tidak hanya pintar secara ilmunya, tapi juga masih bisa mengembangkan sikap-sikap yang baik.
            Semoga refleksi ini dapat dijadikan sebagai arah jalan kita dalam bersikap sebagai guru yang baik, karena kita bukan guru instan yang hanya mendapatkan bimbingan dua bulan untuk menjadi guru. Semoga bermanfaat. 

pertanyaan :
1. Langkah konkrit apakah yang  dapat dilakukan guru agar intuisi siswa tidak hilang begitu saja, karena kenyataannya  guru harus mengejar materi yang cukup banyak dengan waktu yang singkat?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar