Berdasarkan UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bab XI pasal 40 dinyatakan bahwa pendidik dan tenaga kependidikan berkewajiban menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis. Hal tersebut bermakna bahwa suasana pembelajaran yang diharapkan terjadi di kelas bukanlah pembelajaran yang terpusat pada guru, namun suasana pembelajaran yang menyenangkan dimana terjadi dialog yang baik antara guru dengan siswa, dan juga dengan sesama siswa.
Untuk melaksanakan hal tersebut, pembelajaran di kelas dapat dilakukan dengan menggunakan diskusi kelompok. Namun, pada kenyataannya, pelaksanaan diskusi rawan dengan adanya difusi tanggung jawab. Difusi tanggung jawab adalah ketimpangan yang terjadi di dalam melaksanakan tugas kelompok. misalnya, siswa yang berkemampuan rendah akan kurang dianggap di dalam kelompok dan ide-idenya juga kurang diperhatikan oleh kelompok.
difusi tanggung jawab dapat diatasi dengan menerapkan pembelajaran kooperatif STAD (Student Team Achievemen Division). Pembelajaran kooperatif STAD terdiri dari lima tahapan yaitu presentasi kelas, team, kuis, skor kemajuan individual, dan rekognisi tim. Namun, dalam pembelajaran kooperatif STAD kontribusi dari siswa yang berkemampuan rendah menjadi berkurang. Dengan alasan tersebut, maka tanya jawab sangat diperlukan agar semua siswa selalu siap menjawab pertanyaan yang diberikan guru, dimana jawaban salah satu siswa akan menjadi jawaban kelompok. Hal tersebut mendorong agar siswa yang mempunyai prestasi kurang tidak diabaikan oleh kelompoknya, karena jika siswa tersebut terpilih, jawabannya akan menentukan skor kelompok.
Proses tanya jawab dilakukan dengan menggunakan metode kooperatif NHT, karena prinsip dari metode NHT adalah melakukan tanya jawab dan memberikan pertanyaan kepada seluruh siswa, kemudian guru akan memilih siswa secara acak untuk menjawab pertanyaan yang diberikan. Jawaban yang diberikan oleh satu orang siswa akan menjadi jawaban kelompok, dan mempengaruhi nilai yang dimiliki oleh kelompok. dengan cara ini diharapkan, semua anggota kelompok saling memperhatikan pemahaman diri sendiri dan juga pemahaman anggota kelompok yang lain.
Namun, metode NHT ini juga memiliki kelemahan, yaitu bahwa tidak semua siswa dapat terpililih. dengan demikian, pelaksanaan kuis tetap dilaksanakan untuk menjamin bahwa semua siswa paham dengan materi yang dipelajari.
Silahkan mencoba pembelajaran STAD yang terintegrasi dengan NHT,
klik link di bawah ini untuk menguduh perangkat, berupa RPP, LKS, PR, soal kuis da tanya jawab, dan juga soal pretes dan postes.
perangkat masih terbatas pada materi himpunan kelas VII SMP semester 2 saja.
bagi yang berminat mengembangkan perangkat pada materi pokok yang lain dipersilahkan.
terimakasih.
klik
http://www.mediafire.com/download/pfiwb9ryb3boil1/Perangkat_Pembelajaran_STAD_yang_terintegasi_dengan_NHT.rar
Mathematics is Fun
Minggu, 01 Juni 2014
Sabtu, 10 Mei 2014
perangkat pembelajaran STAD yang terintegrasi dengan NHT
Berdasarkan UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bab XI pasal 40 dinyatakan bahwa pendidik dan tenaga kependidikan berkewajiban menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis. Hal tersebut bermakna bahwa suasana pembelajaran yang diharapkan terjadi di kelas bukanlah pembelajaran yang terpusat pada guru, namun suasana pembelajaran yang menyenangkan dimana terjadi dialog yang baik antara guru dengan siswa, dan juga dengan sesama siswa.
Untuk melaksanakan hal tersebut, pembelajaran di kelas dapat dilakukan dengan menggunakan diskusi kelompok. Namun, pada kenyataannya, pelaksanaan diskusi rawan dengan adanya difusi tanggung jawab. Difusi tanggung jawab adalah ketimpangan yang terjadi di dalam melaksanakan tugas kelompok. misalnya, siswa yang berkemampuan rendah akan kurang dianggap di dalam kelompok dan ide-idenya juga kurang diperhatikan oleh kelompok.
difusi tanggung jawab dapat diatasi dengan menerapkan pembelajaran kooperatif STAD (Student Team Achievemen Division). Pembelajaran kooperatif STAD terdiri dari lima tahapan yaitu presentasi kelas, team, kuis, skor kemajuan individual, dan rekognisi tim. Namun, dalam pembelajaran kooperatif STAD kontribusi dari siswa yang berkemampuan rendah menjadi berkurang. Dengan alasan tersebut, maka tanya jawab sangat diperlukan agar semua siswa selalu siap menjawab pertanyaan yang diberikan guru, dimana jawaban salah satu siswa akan menjadi jawaban kelompok. Hal tersebut mendorong agar siswa yang mempunyai prestasi kurang tidak diabaikan oleh kelompoknya, karena jika siswa tersebut terpilih, jawabannya akan menentukan skor kelompok.
Proses tanya jawab dilakukan dengan menggunakan metode kooperatif NHT, karena prinsip dari metode NHT adalah melakukan tanya jawab dan memberikan pertanyaan kepada seluruh siswa, kemudian guru akan memilih siswa secara acak untuk menjawab pertanyaan yang diberikan. Jawaban yang diberikan oleh satu orang siswa akan menjadi jawaban kelompok, dan mempengaruhi nilai yang dimiliki oleh kelompok. dengan cara ini diharapkan, semua anggota kelompok saling memperhatikan pemahaman diri sendiri dan juga pemahaman anggota kelompok yang lain.
Namun, metode NHT ini juga memiliki kelemahan, yaitu bahwa tidak semua siswa dapat terpililih. dengan demikian, pelaksanaan kuis tetap dilaksanakan untuk menjamin bahwa semua siswa paham dengan materi yang dipelajari.
Silahkan mencoba pembelajaran STAD yang terintegrasi dengan NHT,
klik link di bawah ini untuk menguduh perangkat, berupa RPP, LKS, PR, soal kuis da tanya jawab, dan juga soal pretes dan postes.
perangkat masih terbatas pada materi himpunan kelas VII SMP semester 2 saja.
bagi yang berminat mengembangkan perangkat pada materi pokok yang lain dipersilahkan.
terimakasih.
klik
http://www.mediafire.com/download/pfiwb9ryb3boil1/Perangkat_Pembelajaran_STAD_yang_terintegasi_dengan_NHT.rar
Untuk melaksanakan hal tersebut, pembelajaran di kelas dapat dilakukan dengan menggunakan diskusi kelompok. Namun, pada kenyataannya, pelaksanaan diskusi rawan dengan adanya difusi tanggung jawab. Difusi tanggung jawab adalah ketimpangan yang terjadi di dalam melaksanakan tugas kelompok. misalnya, siswa yang berkemampuan rendah akan kurang dianggap di dalam kelompok dan ide-idenya juga kurang diperhatikan oleh kelompok.
difusi tanggung jawab dapat diatasi dengan menerapkan pembelajaran kooperatif STAD (Student Team Achievemen Division). Pembelajaran kooperatif STAD terdiri dari lima tahapan yaitu presentasi kelas, team, kuis, skor kemajuan individual, dan rekognisi tim. Namun, dalam pembelajaran kooperatif STAD kontribusi dari siswa yang berkemampuan rendah menjadi berkurang. Dengan alasan tersebut, maka tanya jawab sangat diperlukan agar semua siswa selalu siap menjawab pertanyaan yang diberikan guru, dimana jawaban salah satu siswa akan menjadi jawaban kelompok. Hal tersebut mendorong agar siswa yang mempunyai prestasi kurang tidak diabaikan oleh kelompoknya, karena jika siswa tersebut terpilih, jawabannya akan menentukan skor kelompok.
Proses tanya jawab dilakukan dengan menggunakan metode kooperatif NHT, karena prinsip dari metode NHT adalah melakukan tanya jawab dan memberikan pertanyaan kepada seluruh siswa, kemudian guru akan memilih siswa secara acak untuk menjawab pertanyaan yang diberikan. Jawaban yang diberikan oleh satu orang siswa akan menjadi jawaban kelompok, dan mempengaruhi nilai yang dimiliki oleh kelompok. dengan cara ini diharapkan, semua anggota kelompok saling memperhatikan pemahaman diri sendiri dan juga pemahaman anggota kelompok yang lain.
Namun, metode NHT ini juga memiliki kelemahan, yaitu bahwa tidak semua siswa dapat terpililih. dengan demikian, pelaksanaan kuis tetap dilaksanakan untuk menjamin bahwa semua siswa paham dengan materi yang dipelajari.
Silahkan mencoba pembelajaran STAD yang terintegrasi dengan NHT,
klik link di bawah ini untuk menguduh perangkat, berupa RPP, LKS, PR, soal kuis da tanya jawab, dan juga soal pretes dan postes.
perangkat masih terbatas pada materi himpunan kelas VII SMP semester 2 saja.
bagi yang berminat mengembangkan perangkat pada materi pokok yang lain dipersilahkan.
terimakasih.
klik
http://www.mediafire.com/download/pfiwb9ryb3boil1/Perangkat_Pembelajaran_STAD_yang_terintegasi_dengan_NHT.rar
Jumat, 11 Januari 2013
SUMBER ILMIAH PENDUKUNG PEMAHAMAN BERFILSAFAT
Rosalia
Yenita Widyaningrum
Pendidikan
matematika B / 12709251052
sebuah refleksi perkuliahan Filsafat Ilmu
Memahami
filsafat tidak lepas dari pikiran para filsuf, dan tidak mudah memahami pemikiran mereka. Pikiran dan ide
para filsuf selalu mengalami perkembangan dan pendapat antara filsuf yang satu
dengan filsuf yang lain berbeda. Pendapat para filsuf adalah pijakan bagi kita dalam memikirkan segala yang ada
dan yang mungkin ada. Plato dengan idealismenya, Rene Descartes, Leibniz, dan
Blaise Pascal dengan rasionalismenya, Thomas Hobbes, David Hume, John Locke
dengan empirismenya, Imauel Kant dengan critisismnya, Aguste Compte dengan
positivismenya, dan masih banyak filsuf lain yang mungkin belum kebanyakan
orang ketahui. Orang-orang tersebut hidup di zaman dahulu dan kita belum pernah
bertemu dengan mereka. Lantas mengapa kita bisa mengenal mereka? Ya, kita bisa
mengenal mereka melalui pemikiran-pemikirannya.
Elegi
yang dibuat oleh Pak Marsigit juga berisikan pendapat-pendapat para ahli yang
dirancang sedemikian rupa sehingga kita bisa mengkonstruksi filsafat kita
sendiri. Dengan membaca elegi, saya dan teman-teman yang lain pastinya juga
bisa memperlajari aliran-aliran para filsuf. Dalam belajar filsafat, kita juga
tidak bisa menelan mentah-mentah apa yang dikatakan oleh para filsuf. Para
filsuf tersebut mempunyai aliran dan pemikiran yang berbeda-beda dan terkadang
saling bertentangan antara aliran yang satu dengan aliran yang lain. Dalam
mempelajari filsafat, kita juga harus mencoba mensintesikan pikiran para filsuf
seperti dalam tugas akhir yang diberikan oleh Pak Marsigit dalam perkuliahan
Filsafat Ilmu.
Dalam membuat tugas tersebut, pastilah banyak
sumber yang saya gunakan untuk mendukung tulisan saya. Ada yang berbentuk pdf,
ada sumber dari buku, ada pula yang berasal dari blog seseorang, dan setelah
selesai menyelesaikan tugas, saya mengumpulkannya dengan perasaan lega. Namun
ternyata, masih ada kekeliruan yang saya lakukan dalam membuat tugas tersebut.
Kekeliruan yang saya lakukan adalah merujuk dari sumber yang kurang tepat.
Rujukan
sumber ternyata harus bersifat ilmiah. Maksud dari ilmiah disini adalah
sumber-sumber yang meyakinkan dan layak dipercaya. Jika kita merujuk sumber
dari blog seseorang yang namanya saja kita masih asing, maka sumber tersebut
belum bisa dikatakan ilmiah. Banyak blog yang dibuat oleh orang-orang yang
kurang kompeten di bidangnya, dan sekarang semua orang bisa membuat blog. Maka
sumber blog pun belum bisa digunakan sebagai rujukan dan masih bersifat kurang
ilmiah. Lalu bagaimana dengan sumber yang berupa makalah? Sumber yang berupa
makalahpun juga harus diteliti, apakah makalah tersebut pernah diseminarkan
atau belum, jika makalah tersebut kita ketahui pernah disampaikan dalam suatu
kegiatan, maka makalah tersebut dapat digunakan, namun jika tidak sumber
tersebut masih dikatakan kurang ilmiah.
Sumber
yang aman digunakan adalah sumber yang berupa jurnal, terlebih jurnal yang telah
terakreditasi. Jurnal yang telah terakditasi telah diyakini bersifat ilmiah
sehingga dapat digunakan sebagai rujukan. Sumber yang berasal dari buku pun
harus kita waspadai siapa pengarangnya, karena banyak oknum yang membuat buku
dengan tujuan ingin mencari uang dan bekerja sama dengan penerbit. Maka, kita
harus waspada, siapa pengarag buku tersebut, apakah sesuai dengan bidang
kependidikannya atau tidak.
Intinya kita harus
berhati-hati dalam merujuk sumber bacaan. Kualitas tulisan kita dilihat dari
sumber yang kita gunakan, kualias sumber kita dilihat dari pengarangnya, dan
kualitas pengarangnya dilihat dari sepak terjangnya dalam bidang yang
ditulisnya dan karya-karya yang pernah dihasilkannya. Semoga kita semakin
belajar dan dapat belajar dari setiap kesalahan yang kita lakukan.
Pertanyaan :
Jurnal dianggap sebagai sumber yang
ilmiah, namun bagaimana jika ternyata jurnal tersebut juga dibuat oleh sembarang
orang dan kurang berkompeten,apakah hal tersebut tetap dapat digunakan sebagai
sumber ilmiah? Bagaimana cara kita memilih sebuah jurnal agar dapat kita
percayai kebenarannya? Terimakasih pak...
Senin, 07 Januari 2013
JOHN LOCKE DAN TABULA RASA
JOHN LOCKE DAN
TABULA RASA
Makalah Dibuat Dalam Rangka Melengkapi Tugas-tugas
Perkuliahan Filsafat Ilmu dari Dr. Marsigit M.A., Th
2012/2013
| Add caption |
Disusun oleh:
Rosalia Yenita Widyaningrum, S.Pd
NIM : 12709251052
Pendidikan Matematika B
PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN MATEMATIKA
PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS
NEGERI YOGYAKARTA
2013
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL.................................................................................................... i
DAFTAR ISI............................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................... 1
BAB II ISI
A.
Empirisme dan
John Locke........................................................................... 4
B.
Tabula rasa ..................................................................................................6
C.
Tabula rasa dan
Pembelajaran Matematika....................................................8
BAB III KESIMPULAN........................................................................................... 14
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................15
BAB
1
PENDAHULUAN
Dunia
pendidikan di negara kita sudah mengalami perkembangan. Hal ini ditandai dengan
banyaknya sekolah yang ada di wilayah negara kita dengan berbagai kualitas yang
berbeda-beda. Bermacam-macam model sekolah ada di Indonesia, mulai dari sekolah
yang biasa-biasa saja sampai sekolah internasional yang didirikan berkat
kerjasama antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah luar negeri. Banyaknya
sekolah intermasional juga tidak berarti berkurangnya sekolah minim di
Indonesia. Masih banyak seklah-sekolah yang minim fasilitas di dalam
melaksanakan kegiatan belajarnya. Banyak sekolah-sekolah yang berdiri dengan
bangunan yang tidak layak dijadikan sebagai ruang kelas. Pernah teman saya
bercerita bahwa karena kondisi kelas yang idak memadai, maka kegiatan belajar
dilaksanakan di makam samping sekolah. Kondisi inilah yang sangat bertolak
belakang dengan situasi sekolah-sekolah internasional yang beradapat di kota
besar yang berlimpah denga fasilitas.
Banyak
juga metode yang sekarang sudah mulai diterapkan dalam pembelajaran di
Indonesia. Banyak metode, model dan juga pendekatan yang diciptakan untuk
memperbaiki metode ceramah yang akhir-akhir ini dinilai tidak efektif. Abimanyu
( 2007 : 4) menyataan bahwa metode ceramah memiliki beberapa kelemahan, yaitu
siswa dapat menjadi jenuh terutama jika guru tidak pandai menjelaskan, dapat
menimbulkan verbalisme pada siswa, materi ceramah terbatas pada apa yang
diingat guru, siswa yang mempunyai ketrampilan kurang dalam hal mendengarkan
akan dirugikan, sisw dijejali dengan konsep yang belum tentu dapat diingat
terus menerus, terkadang informasi yang disampaikan sudah ketinggalan zaman,
tidak merangsang berkembangnya kreatifitas siswa, dan terjadinya interaksi satu
arah, yaitu dari guru terhadap siswa.
Menanggapi
dari apa yang telah disampaikan di atas, penulis setuju dengan informasi
tersebut. Menurut pengamatan dan pengalaman penulis, metode ceramah membutuhkan
kreatifitas guru yang lebih besar jika dibandingkan dengan metode yang lain.
Kreatifitas yang dimaksud disini adalah kreatifitas dalam menyampikan materi
pembelajaran dalam bentuk ceramah tersebut. Kreatifitas dapat ditunjukkan denga
menampilkan lelucon yang dapat menyegarkan suasana. Jika guru hanya sekedar
menyampikan materi secara terus menerus tanpa variasi, siswa akan mudah menjadi
bosan dan ujung-ujungnya akan menjadi kurang fokus dengan materi yang sedang
dipelajari. Metode ceramah adalah salah satu metode yang berpusat pada guru dan
bukanlah siswa. Dalam hal ini, siswa tidak akan mengalami pembelajaran yang
bermakna jika hanya mendengarkan saja. Maka dari itu, ceramah menyebabkan
pengetahuan tidak bertahan lama dalam pikiran siswa. Pembelajaran yang
dilaksanakan dengan metode ceramah juga
tidak menjadikan siswa sebagai aktor dalam pembelajaran. Pembelajaran dengan
metode ceramah akan tetap akan membuat siswa paham dengan materi yang
diajarkan, hanya sifatnya tidak akan bertahan lama. Mungkin saat itu mereka
paham dan akan cepat lupa.
Dengan
segala kekurangan yang ada, tidak berarti metode ini tidak mempunyai
keuntungan. Abimanyu (2007 : 4) menguraikan beberapa keuntungan metod ceramah,
diantaranya metode ini murah dalam artian efisien jika dilihat dari segi waktu
dan biaya, dan tersedianya guru dan mudah dalam arti materi yang dapat
disesuaikan dengan terbatasnya waktu. Dalam pembelajaran, metode ceramah
terkadang juga dibutuhkan, namun porsinya tetap harus dibatasi dan tetap
memperhatikan konstruksi pengetahuan dalam diri siswa dan perlu diingat pula
bahwa peran guru adalah sebagai fasilitator dan bukan aktor.
Banyak
metode pembelajaran yang telah dikembangkan dengan tujuan memberikan
pembelajaran yang bermakna bagi siswa. Pembelajaran sangat erat kaitannya
dengan perkembangan siswa. Dari berbagai metode pembelajaran juga sebaiknya
disesuaikan dengan kondisi psikologis perkembangan siswa. Metode yang paling
unggul seakalipun jika tidak diterapkan dengan benar pada kondisi yang tepat
juga pada akhirnya tidak akan membawa hasil yang baik pula. Jika siswa tidak
siap dengan penggunaan suatu metode, maka sama halnya metode pembelajaran
tersebut tidak membawa dampak yang signifikan. Contohnya adalah penggunaan
metode kooperatif yang menggharapkan siswa belajar di dalam kelompok. Bagaimana
jika siswa belum mampu diajak berdiskusi dan siswa mash bersifat pasif? Maka
sama halnya metode tersebut gagal untuk dilakukan. Kombinasi antara kebutuhan,
kesiapan dan juga kreatifitas guru sangat mempengaruhi keberhasilan metode yang
dilaksanakan di kelas.
Guru
sebagai fasillitator dalam pembelajaran dapat saya umpamakan sebagai sutradara
yang mengatur jalannya pembelajaran dan yang mempunyai arahan akan dibawa
kemana pembelajaran yang dilaksanakan. Guru yang memfasilitasi siswa dalam
belajar dan siswanya yang harus mengembangkan pengetahuannya, tentunya dengan
bimbingan yang diberikan guru. Inilah tantangan bai guru dalam memfasilitasi
kegiatan belajar siswa yang memiliki berbagai macam kemampuan, dengan
kepribadian yang berbeda dan juga dengan pengetahuan awal yang berbeda demi
mencapai kompetensi yang diharapkan.
John
Locke (1632 – 1704) sangat terkenal dengan konsep tabula rasa atau kertas
kosong, dimana jiwa seseorang bagaikan kertas putih. Kertas putih ini kemudian
akan mendapatkan coretan atau tulisan dari unsur luar. Dalam hal ini, keputusan
akan berada ditangan unsur luar. Terserah kepada unsur luar akan menulisi
dengan sesuatu yang berwarna merah atau putih, hijau dan sebagainya. Apakah
sebenarnya teori tabula rasa itu, dan bagaimana hubungnnya dengan pembelajaran?
Secara lengkapnya akan dibahas di dalam bab selanjutnya.
BAB
II
ISI
Dengan
apa yang telah disampaikan dalam bagian pendahuluan, bahwa teori tabula rasa
menanggap jiwa seeorang bagaikan kertas putih yang harus diisi dengan berbagai
macam hal sehingga kertas tersebut berwarna dan memiliki makna. Dengan adanya
hal tersebut, penulis ingin membuat sintesis dari apa yang diungkapkan oleh
John Locke.
A. Empirisme dan John Locke
John
Locke adalah seorang filsuf Inggris dari pahan empirisme yang cukup terkenal.
John Locke lahir pada tanggal 29 Agustus 1632 di Wrington Inggris dan meninggal
pada tanggal 28 Oktober 1704. Dia dibesarkan oleh ayahnya seorang pengacara
yang bekerja sebagai juru tulis hakim di Somersetshire dan menjadi kapten
angkatan bersenjata di Long Parliament selama pemerintahan Raja Charles 1. Pada
tahun 1646, tepatnya ketika John Locke
berusia 14 tahun, dia diterima di Westminster School. Di sekolah tersebut,
selama 6 tahun ia mencurahkan segala perhatiannya pada pelajaran bahasa latin
dan Yunani disamping pelajaran-pelajaran lainnya yang diberikan di tingkat
sekolah menengah.
Pada
tahun 1652, dia diterima di Christ Chruch College, Universitas Oxford. Di
sekolah tersebut, dia mempelajari retorika bahasa, filsafat moral, ilmu ukur,
fisika, bahasa latin, arab, dan yunani. Dia mendapatkan gelr sarjana muda pada
tahun 1656 dan sarjana penuh pada tahun 1658. Pada yahun 1660, dia memperoleh
beasiswa sebagai mahasiswa senior dan diberikan hak istimewa utuk tetap berada
di Universitas tersebut untuk selama-lamanya. Dengan beasiswa tersebut, dia
bekerja sebagai pembimbing untuk mata pelajaran retorika, bahsa Yunani dan
filsafat.
Pada
tahun 1665, dia menjadi sekretaris misi diplomatik kerajaan Inggris di Brandenburg
dan pada tahun 1666 kembali lagi ke Inggris dan mempelajari ilmu kedokteran.
Sejak Locke menyembuhkan salah satu duta Kerajaan Inggris, dia mulai bekerja untuk
pemerintahan. Sejak itulah, pandangan–pandangan terhadap berbagai masalah mulai
terangkat dan dipublikasikan.
John
locke adalah salah seorag filsuf empirise, dimana empirisme adalah sebuah
aliran filsafat yang memberikan tekanan pada empiris atau pengalaman sebagai
sumber pengetahuan (Susanto, 2011 : 37). Istilah empiris bersal dari kata dalam
bahasa Yunani, emperia, yang berarti
pengalaman inderawi. Jelas terdapat perbedaan dengan aliran rasionalisme yang
sangat memeningkan rasio dalam mengembangkan pengetahuannya, dalam menentukan
sesuatu dan dalam menyelesaikan masalah. Seperti yang dikemukakan oleh
Descartes dalam metodenya yaitu :
1. Tidak
menerima suatupun sebagai kebenaran, keuali bila saya melihat hal itu dengan
tegas dan jelas sehingga tidak ada suatu keraguan apapun yang mampu
merobohkannya.
2. Pecahkan
setiap kesulitan atau masalah itu sebanyak mungkin bagian, sehingga tidak ada
suatu keraguan apapun yang mampu merobohkannya.
3. Bimbinglah
pikiran dengan teratur, dengan memulai dari hal yang sederhana dan mudah untuk
diketahui, kemudian secara bertahap sampai pada hal yang paling sulit dan
kompleks.
4. Dalam
proses pencarian dan pemeriksaan hal-hal sulit, selamanya harus dibuat
perhitungan-perhitungan yang sempurna serta pertimbangan-pertimbangan yang
menyeluruh, sehingga kita yakin bahwa tidak ada satu pun yang mengabaikan atau
ketinggalan dalam penjelajahan itu. (Susanto, 2011 : 37).
Dengan
demikian, aliran empirisme sangat bertentangan dengan aliran rasionalisme jika
diliht dari segi sumber pengetahuannya. Karena John Locke adalah salah seorang
penganut empirisme, maka teorinya juga berkaitan dengan empirisism atau
pengalaman.
Tabula
rasa atau lembaran kertas kosong atau dapat dikatakan bahwa jiwa seseorang
seperti kertas kosong yang dapat diisi sehingga jiwa tersebut menjadi berwarna
dan berisi. Tabula rasa menganggap bahwa otak manusia adalah sebuah penerima
pasif yang memperoleh pengatahuan dari pengalaman dan diserap melalui panca
indera. Berbagai gagasan sederhana dan kemudian dihubungkan atau digabungkan
menjadi pemikiran yang berkaitan (faiz, 2008 : 3). Karena John Locke adalah
filsuf empirisme, maka teori tabuala rasa ini sangat dekat hubungannya dengan
teori pengalaman sebagai sumber pengetahuan.
B. Tabula rasa
Mastrianni
(2012) menyatakan bahwa tabula rasa atau “blank slate” telah menjadi perdebatan
selama beberapa abad. Meskipun teori tabula rasa ini pertama kali muncul di
zaman Yunani kuno, namun hal ini paling sering dikaitkan dengan dengan filsuf
Inggris, John Locke (1632-1704). Locke mengemukakan bahwa manusia dilahirkan
dengan suatu keadaan dimana tidak ada bawaan yang akan dibangun pada saat
lahir. Locke menyatakan bahwa segala sesuatu yang kita pelajari dalam hidup
adalah hasil dari hal-hal yang kita amati dengan menggunakan indera kita. Dia
menyimpulkan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk mengendalikan pertumbuhan
karakter mereka sendiri, meskipun tidak ada yang bisa memisahkan perkembangan
ini dari identitas manusia sebagai anggota dari umat manusia.
Aristoteles
(384 SM -322 SM) dalam tulisannya yang berjudul De Anima, disebutkan bahwa
pikiran sebagai pikiran kosong. Lebih dari 1000 tahun kemudian, pada abad ke
-11 teori tabula rasa muncul di Persia kuno dalam tulisan Ibnu Sina, seorang
filsuf Persia. Ibnu Sina menyatakan bahwa pikiran saat lahir adalah batu tulis
kosong dan pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman dengan benda nyata dan
dari pengalaman itu kemudian digunakan untuk mengembangkan konsep abstrak
tentang benda-benda, dan bukan sebaliknya.
John-Jacques
Rosseau (1712-1728), sebagai sesama penganut aliran empirisme juga menyatakan
persetujuannya dengan teori tabula rasa. Rosseau percaya bahwa sifat manusia
merupakan akibat langsung dari pengalaman dan lingkungan, yang diberikan dalam keadaan berbeda-beda.
Laki-laki juga akan mengalami perkembangan yang berbeda dengan perempuan.
Pendapat ini berbeda dengan pandangan Thomas Hobbes yang mengemukakan bahwa
laki-laki biasanya mempunyai kelakukan yang lebih buruk daripada wanita
sehingga biasanya mereka ditempatkan di barisan terdepan oleh polisi.
Dalam
Essay Concerning Human Understanding,
John Locke mengingatkan kembali mengenai pentingnya pengalaman. Pada saat
lahir, mereka bagaikan kertas kosong yang
kemudian diisi dengan berbagai pengalaman. Pada awalnya, manusia memulai
dengan konsep-konsep yang sederhana, dan kemudian dilajutkan dengan konsep yang
lebih kompleks. Hal ini juga tercantum di dalam tulisannya, yaitu :
“Let
us then suppose the mind to be, as we say,white paper void of all characters,
wit hout any ideas. How comes it to b furnished? Whence comes it by that vast
store which the busy and boundless fancy of man has painted on it with an
almost endless variety? Whence has it all the materials of reason and
knowledge? To this I answer, in the one word , from EXPERIECE. (Dawkins,
2009).
Tabula
rasa erat kaitannya dengan pengalaman, dan dengan hal ini John Locke tidak
mengakui adanya intuisi yang membangun pemahaman manusia. Segala yang diketahui
oleh seorang anak hanyalah akibat dari apa yang diajarkan oleh orangtuanya. Setiap
anak lahir dengan kemampuan yang sama dan setelah itu perkembangannya
berdasarkan apa yang diberikan oleh orang tuanya. Teori ini tidak mengakui
adanya kemampuan awal yang ada dalam setiap diri anak. Jadi, sejak lahir,
seorang anak tidak mempunyai bakat dan pembawaan apa-apa, dan segala yang akan
terjadi merupakan tanggung jawab penuh dari pendidiknya, entah guru atau
orangtuanya. Tabula rasa juga tidak mengakui adanya kemampuan awal atau bakat
awal dan diwariskan dari orangtuanya.
Berdasarkan
teori tabula rasa ini, sebelum anak-anak mengenyam bangku sekolah dan bertemu
dengan guru, orangtualah yang sepenuhnya bertanggungjawab terhadap apa yang
akan diajarkan kepada anak. Segala yang diajarkan oleh orang tua, itulah
ilmunya. Jika ilmu tersebut berasal dari bentukan dan didikan oragtuanya maka
sikap anak tersebut juga akan selaras dengan apa yang diajarkan orang tua. Jika orangtua mengajarkan tentang kebaikan
dan kasih sayang, maka terisilah pemahaman
siswa tentang kebaikan. Sebaliknya jika anak tersebut berisi dengan hal-hal
yang kurang baik, maka kelakuannya juga tidak akan menjadi baik. Locke mengatakan bahwa orang tua dan
pembimbing harus menjadi contoh dan memperlihatkan sifat-sifat dan kepribadian
yang baik, yang meliputi kebaikan, pendidikan yang baik, dan hal-hal yang
dihormati serta dapat ditiru oleh anak-anak. Seorang anak yang mencoba untuk
mencontoh hal-hal baik tersebut harus diberi pujian, didorong untuk melakukan
hal yang baik kembali, diperbaiki, ditegur, atau dibimbing jika perlu tetapi
jangan dibebani dengan kritik yang berlebihan dan tidak berguna (mudhokhi,
2008). Locke juga menganjurkan agar tidak mengisi kepala anak-anak dengan
“sampah” atau hal-hal yang tidak berguna karena mereka tidak akan memikirkan
hal-hal tersebut lagi selama hidupnya. Pendidikan harus bersifat praktis,
berguna, memiliki makna, menyenangkan dan anak didik harus dihormati dan
diperlakukan seperti orang dewasa. Selain itu, siswa juga diberi kesempatan
untuk mengeluarkan pendapatnya, belajar dari pengalaman yang nantinya dia akan
memperoleh berbagai kemampuan yang berguna bagi hidupnya. Tabula rasa John
Locke mengatakan bahwa lebih baik belajar dari pengalaman dibandingkan belajar
dari buku-buku, namun belajar dari buku juga tidak serta merta dilupakan begitu
saja. Dengan pengalaman yang telah dia alami dan ada dalam hidupnya, maka kelak
individu tersebut dapat menentukan langkah hidup selanjutnya dan memilih apa
yang terbaik untuk dirinya.
C. Tabula rasa dan Pembelajaran
Matematika
Jiwa seseorang dianggap
sebagai kertas kosong, itulah apa yang digambarkan di dalam konsep tabula rasa.
Kertas itu nantinya aka diisi dengan segala hal dan menjadikannya berwarna.
Tabula rasa ini juga telah mempunyai pengaruh di dalam dunia pendidikan.
Terkadang dalam suatu pembelajaran, siswa diibaratkan dengan kertas putih
dengan pemahaman yang masih kosong, dan kemudian guru bertugas untuk mengisinya
dengan materi-materi yang akan membuat lembaran kosong itu terisi dengan
materi-materi yang diberikan guru. Pengetahuan yang dimiliki siswa tergantung
dari apa yang diberikan guru. Hal yang
diberikan guru akan menjadi pengalaman yang berguna bagi siswa dan akan
digunakan kembali dalam membentuk pengetahuan yang akan datang.
Tabula rasa erat
kaitannya dengan pengalaman, dan menurut analisis penulis, pengalaman juga
mempunyai peran yang penting dalam pembentukan pengetahuan manusia. Seorang
siswa juga dapat menggunakan pengalaman belajarnya yang lalu untuk
mengembangkan pemikirannya yang baru. Dengan belajar, siswa aka memperoleh
pengalaman berharga tentang apa yang telah dipelajari. Namun belum tentu juga
dengan pembelajaran yang telah dilakukan, siswa akan mempunyai pengalaman yang
berharga. Pengalaman siswa akan terbentuk jika pembelajaran itu bermakna
baginya dan berkesan sehingga tidak akan mudah untuk dilupakan.
Guru sebagai
fasilitator dalam pembelajaran hendaknya dapat memberikan fasilitas yang dapat
digunakan oleh siswa untuk membentuk pengetahuannya. Fasilitas yang diberikan
adalah fasilitas dalam bentuk model pembelajaran yang digunakan guru. Guru
dapat mengorganisir model pembelajaran yang
cocok, yang dapat memberikan pengalaman belajar bagi siswa dan juga pas
dengan kemampuan siswa untuk melakukannya. Dalam hal ini, guru dapat
menggunakan pendekatan inkuiri (penemuan) dimana dengan menemukan, pengetahuan
akan bertahan lama di dalam pikiran siswa. Pengalaman yang dia alami di
pembelajaran ini akan diingatnya terus dan digunakan sebagai bekal dalam
memahami materi lain yang berhubungan. Jika pembelajaran yang dilakukan dan
dialami tidak memberikan manfaat dan pengalaman yang baik, maka sama halnya
pemelajaran yang dilakukan tidak memiliki makna yang baik dan akan mudah untuk
dilupakan siswa. Jika selama mengalami pembelajaran siswa hanya masuk telinga
kanan dan keluar telinga kiri, maka sama halnya pembelajaran itu menjadi kurang
bermakna.
Berdasarkan Ebbut dan
Straker dalam (Marsigit, 2011), matematika adalah sebuah kegiatan yang
hakekatnya dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Matematika
adalah kegiatan penelusuran pola dan hubungan.
Kegiatan penemusuran
pola dan hubungan dapat dilakukan dengan memberian kesempatan kepada siswa
untuk melakukan kegiatan penemuan dan juga penyelidikan pola-pola untuk
menentukan hubungan serta memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan
penyelidikan dan percobaan dengan menggunakan tberbagai cara. Dalam hal ini,
pengalaman memegang peranan penting dalam membantu siswa menentukan dan
menemukan adanya pola yang terjadi. Ilmu yang telah diperoleh di masa lampau
dapat dijadikan sebagai dasar dalam memahami materi yang akan datang.
2. Matematika
adalah kreatifitas yang memerlukan imajinasi, intuisi, dan penemuan.
Imajinasi,
intuisi, dan penemuan merupakan hal-hal yang digunakan dalam menghadapi
matematika. Dalam hal ini, guru diharapkan dapat mendorong inisiatif siswa dan juga mendorong rasa ingin tahu.
Menyelesaikan soal matematika juga membutuhkan intuisi. Intuisi dibutuhkan
untuk mengetahui langkah apa yang kira-kita tepat digunakan untuk menyelesaikan
soal tersebut. menurut analisis penulis, intuisi yang kita punya dapat
memberikan penilaian apakah proses yang kita lakukan sudah tepat atau belum.
Intuisi tidak memiliki pondamen, maka kita tidak tahu kapan dimulainya susunan
intuisi dalam pikiran kita.
3. Matematika
adalah kegiatan problem solving.
Matematika
adalah kegiatan problem solving. Dengan demikian, hal ini dapat dilakukan
dengan merangsang siswa untuk melakukan pemecahan masalah matematika dengan
menggunakan caranya sendiri dan tentunya dengan menggunakan bantuan dari guru.
4. Matematika
merupakan alat komunikasi.
Matematika
adalah alat komunikasi dan pandangan ini daat dilakukan dengan mengenal sifat
matematika, mendorong siswa membuat conth matematika, merangsang siswa
menjelaskan sifat matematika, dan juga mendorong siswa membicarakan persoalan
matematika.
Dengan demikian, pembelajaran
matematika dengan kegiatan penbelajaran yang berpusat pada siswa (student centered).
Pengalaman merupakan
hal yang perlu diperhatikan dalam pembentukan pengetahuan, namun menurut
analisis penulis, setiap manusia yang lahir sudah dibekali dengan kemampuan
awal di dalam pikirannya sehingga tidak dapat dikatakan jiwa manusia berupa
kertas putih yang kosong. Saya percaya bahwa setiap manusia telah mendapatkan
warisan yang dibawanya sejak lahir. Setiap manusia mempunyai kecederunan khas
sebagai warisan yang dibawanya sejak lahir yang akan mempengaruhi
kepribadiannya pada waktu dewasa. Akan tetapi, warisan genetik hanya menentukan
kepribadian setiap orang. Tumbuh dan bekembangnya potensi tidak seperti garis
lurus, namun ada potensi terjadi penyimpangan. Faktor genetik memang
mempengaruhi keprbadian, namun tidak bersifat mutlak, masih banyak faktor
–faktor lainnya. Hal ini bertolak belakang dengan apa yang dijelaskan di dalam
prinsip tabula rasa. Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa tabulrasa
meyakini pembentukan karakter melalui apa yang diberikan oleh dunia luar, dan
tidak meyakini adanya kemampuan awal yang
merupakan warisan dari kedua orang tuanya karena setiap jiwa terlahir
sebagai kertas putih.
Sesuai dengan apa yang
telah disampaikan di atas, bahwa matematika adalah kegiatan penelusuran pola
dan hubungan, matematika adalah kegiatan yang memerlukan imajinasi, intuisi,
dan penemuan, matematika adalah kegiatan problem solving, dan matematika adalah
komunikasi. Matematika jelas memerlukan intuisi, dan kita tidak pernah tahu
kapan berlangsungnya intuisi di dalam pikiran kita, entah sejak lahir, atau
kapan. Intuisi tidak memiliki pondamen, sehingga kita tidak pernah tahu kapan
ada dan dimulainya di dalam pikiran kita. Dengan demikian, tidak benar secara
sepenuhnya jika kita mengatakan bahwa
manusia lahir sebagai kertas putih yang kosong. Teori tabula rasa John Locke
juga ternyata tidak mengakui adanya intuisi, karena dia kemampuan yang ada di
dalam diri manusia adalah goresan pena dari para pengisinya.
Saya sempat berfikir,
bagaimana guru secara terus menerus menganggap siswa sebagai lembaran kosong
yang harus diisi dengan pengetahuan-pengetahuan? Bagaimana jika suatu saat
bejana itu penuh dan pecah? Bagaimana jika pengetahuan yang dimiliki guru tidak
cukup memadai dan bukankah sumber pembelajaran itu tidak selamanya berasal dari
guru, mengingat posisi guru hanyalah sebagai fasilitator. Siswa yang satu juga
bisa menjadi sumber belajar bagi siswa yang lain. Jika menemukan suatu
kesulitan, tidak harus seorang siswa itu bertanya langsung kepada guru, tetapi
bisa juga bertanya kepada teman yang lain terlebih dahulu dan terkadang
penjelasan teman lebih mudah dipahami daripada penjelasan guru sendiri. Banyak buku pelajaran, LKS dan sumber belajar
dan media pembelajaran yang dapat digunakan sebagai sumber pembelajaran yang
baik. Semakin banyak sumber yang ada, maka semakin banyak hal baru yang dapat
diperoleh. Guru bukanlah satu-satunya sumber pembelajaran yang tersedia di
kelas. Pembelajaran akan menjadi aktif dan hidup jika semua elemen yang ada di
dalamnya ikut berperan aktif.
Tabula rasa ini membawa
pengaruh yang cukup besar dalam sistem pembelajaran konvensional. Dalam
praktiknya di dalam pembelajaran konvensional, guru terlalu terlihat aktif di
dalam pembelajaran. Dalam hal ini, siswa memang tidak pasif secara mutlak,
tetapi aktivitas siswa yang timbul sangat sedikit sekali, yaitu hanya terbatas
pada mendengarkan, mencatat, dan menjawab pertanyaan dari guru. Kegiatan para
siswa hanya terbatas terhadap apa yang diperintahkan guru dan cara yang
ditetapkan guru.
Tabula rasa tidak
selamanya merupakan paham yang salah, karena merupakan pola pikir yang masih
konvesional. Walaupun terdapat paham yang sudah tidak sesuai dengan
perkembangan pendidikan masa kini, namun pembelajaran dengan berdasarkan
pengalaman masih dapat diterapkan dengan baik. Pembelajaran yang bermakna
memang diperlukan di dalam pembelajaran. Pembelajaran yang bermakna akan
tinggal dengan lama di dalam pikiran siswa. Pikiran siswa bukan sepenuhnya
kertas kosong yang harus diisi, melainkan kertas yang sudah terisi dengan
pengatahuan awal yang berbeda-beda, dan dengan pembelajaran akan menambah
warna-warna yang terdapat di dalam kertas tersebut.
Tabula rasa erat dengan
pengalaman, dan pengalaman itu membantu seseorang untuk memahami pengetahuan
yang baru. Jika hal ini dikaitkan dengan konsep tabula rasa yang menganggap
jiwa siswa bagikan kertas kosong, bagaimana dengan pengetahuan awal yang sudah
diterima pada kelas sebelumnya. Sudah tentu pasti mereka telah mempunyai
pengalaman belajar di kelas sebelumnya. Dengan demikian, tampaknya tabula rasa
John Locke mengalami sedikit kontradiksi di dalam penerapannya di dalam dunia
pendidikan.
BAB III
KESIMPULAN
Tabula rasa menganngap
pikiran manusia bagaikan kertas putih yang nantinya akan diisi dan menjadi
berwarna. Tabula rasa adalah salah satu
cabang dari aliran empirisme yang mendasarkan teorinya berdasarkan pengalaman.
Dengan demikian, tabula rasa erat dengan pengalaman. Jika dikaitkan dengan
proses pembelajaran di dalam kelas, pengalaman belajar juga mengambil peran
penting dalam terbentuknya pemahaman siswa. Pembelajaran yang baik juga
pembelajaran yang memberikan pengalaman bagi siswa. Pengalaman yang baik akan
menjadikan materi yang dipelajari juga akan bertahan lama dalam diri siswa.
Tabula rasa tidak dapat
dipercaya secara penuh jika diterapkan di dalam pembelajaran, karena tabula rasa
masih memegang konsep bahwa pikiran siswa adalah lembaran kosong yang dapat
diisi dengan materi-materi dari guru. Dalam hal ini, peran guru menjadi lebih
aktif di kelas, dan siswa hanya mendengarkan, mencatat, dan menjawab pertanyaan
dari guru. Peran siswa menjadi lebih sedikit dan tidak menjadi aktor di dalam
pembelajaran. Pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang memberikan
kesempatan kepada siswa untuk menjadi aktor di dalam pembelajaran dan
diharapkan pembelajaran itu akan membawa sesuatu yang bermakna.
Terdapat sifat yang
masih kontradiksi dalam konsep tabula rasa. Tabula rasa mementingkan pengalaman
sebagai faktor pembentuk dari pengetahuan siswa. Jika dihubungkan dengan tabula
rasa dimana pikiran siswa adalah kertas putih kosong, bagaimana dengan
pengalaman-pengalaman yang sudah diterima sebelumnya?
DAFTAR
PUSTAKA
Abimanyu,
Soli. 2007. Metode Pembelajaran yang
Lebih Berpusat Pada Guru.
Diakses
dari http://pjjpgsd.dikti.go.id/file.php/1/repository/dikti/Mata%20Kuliah%20Awal/Strategi%20Pembelajaran/BAC/strategi_pembelajaran_unit_6.pdf
pada tanggal 5 Januari 2013.
Dawkins,
Richard, et.al. 2009. John Locke Mind as
a Tabula Rasa. Diakses dari http://www.age-of-the-sage.org/philosophy/john_locke_tabula_rasa.html.
Diakses pada tanggal 27 November 2012.
Mudhokhi,
faiz. 2008. Paradigma Pendidikan John
Locke dan Robert Owen. Diakses dari http://faizperjuangan.wordpress.com/2008/02/12/paradigma-pendidikan-john-locke-dan-robert-owen-sebuah-tugas-kuliah/
pada tanggal 27 November 2012.
Marsigit,M.A.
2011. Elegi Pemberontakan Matematika 9 :
School Mathematics. Diakses dari http://powermathematics.blogspot.com/search?updated-min=2011-01-01T00:00:00%2B07:00&updated-max=2012-01-01T00:00:00%2B07:00&max-results=50
tanggal 27 November 2012.
Mastrianni,
Steve. 2012. Tabula Rasa – Reductio Ad
Absurdum. Diakses dari
http://www.mastrianni.net/pdf/Tabula%20Rasa.pdf
tanggal 27 November 2012.
Susanto. 2011. Filsafat
Ilmu Suatu Kajian dalam Dimensi Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologis.
Jakarta : Bumi Aksara.
http://id.wikipedia.org/wiki/John_Locke
diakses pada tanggal 26 Desember 2012.
Senin, 17 Desember 2012
INISIATIF UNTUK MEMBANGUN DUNIA PIKIR
Rosalia
Yenita Widyaningrum
Pendidikan
Matematika B / 12709251052
Kita
semua adalah mahkluk ciptaanNya yang sempurna, yang dianugerahi dengan segenap
kemampuan yang menjadikan kita istimewa. Kemampuan yang ada dalam diri kita
adalah sebuah sarana yang digunakan dalam melengkapi dan mengisi hidup kita. Segala
hal yang ada dalam hidup kita tidak terjdi secara otomatis, namun dapat terjadi
karena adanya usaha yang kita lakukan. Segala yang kita punya memang anugerah
dariNya, namun jika kita tidak berusaha anugerah juga tidak akan datang. Jadi,
dapat dikatakan bahwa anugerah adalah hadiah atas usaha kita.
Segala
yang kita punya tidak akan datang secara tiba-tiba jatuh dari langit. Segalanya
memerlukan usaha dan juga proses. Demikian halnya dengan pengetahuan yang kita
punyai. Suatu pengetahuan yang kita miliki tidak mungkin datang secara
tiba-tiba. Kita tahu karena kita berproses. Pengetahuan dapat berasal dari
orang lain, dari media dari kehidupan sehari-hari dan juga dapat berasal dari
kesalahan yang pernah kita lakukan. Pengetahuan kita tidak akan berkembang jika
kita tidak punya inisiatif dan kemauan untuk terus mau belajar. Saya pernah
menjadi seorang siswa, dan sekarangpun juga masih menjadi seorang siswa. Jika
saya tidak mempunyai kemauan untuk belajar secara mandiri, maka pengetahuan
yang saya punya tidak akan berkembang.
Inisiatif
membutuhkan motivasi. Jika kita tidak termotivasi, bagaimana kita akan
mempunyai inisiatif. Inisiatif adalah langkah awal dalam membangun pengetahuan
kita. Seperti cerita Pak Marsigit yang melakuan supervisi di SMP N 1
Balikapapan. Pada mulanya Pak Masigit belum mengetahui bagaimana kondisi yang
ada di sana. Namun dengan inisiatif untuk mendatangi kantor dinas terlebih
dahulu, pengetahuan beliau sedikit demi sedikit mulai berkembang. Terlebih lagi
ketika menyaksikan bagaimana proses pembelajaran yang ada disana. Semakin lama
pengetahuan beliau tentang SMP N 1 Balikpapan semakin berkembang, jika
diumpamakan seperti pohon yang daunnya tumbuh subur dan sudah berbuah. Dengan
demikian, Pak Marsigit memperoleh pengetahuannya melalui inisiatif. Hal itulah
yang disebut dengan konstruktivisme.
Dengan
cerita dari beliau, yang dapat saya tangkap adalah bahwa pengetahuan itu
berdimensi, pengetahuan itu berproses, dan pengetahuan itu memerlukan insiatif.
Pengetahuan itu berproses, karena tahap kita mengetahui juga berproses.
Pengetahuan itu memerlukan inisiatif karena inisiatif adalah langkah awal dalam
membangun konstruksi pengetahuan dalam diri kita.
Dengan
adanya inisiatif yang ada, kita tidak hanya sekedar menjadi pengikut saja,
namun kita juga mempunyai pendirian. Dengan pengalaman, kita dapat membentuk
inisiatif dan kemudian dapat mengkonstruksi pengetahuan yang ada dalam diri
kita sehingga menjadi semakin besar dan berkembang. Dengan demikian,
pengetahuan yang kita miliki tidak bersifat statis dan mandeg, namun terus mengalami perkembangan dan semakin menjadikan
kita makhluk ciptaanNya yang istimewa. Semoga kita dapat menjadi manusia yang
semakin baik dari hari ke hari dan nantinya kita sebagai guru juga dapat
semakin berinisiatif dalam menciptakan pembelajaran yang membuat siswanya
berani untuk berinisiatif.
Pertanyaan :
Apakah inisiatif juga bersifat trial and error? Maksudnya bagaimana jika
inisiatif kita ternyata berada di jalan yang salah.
Senin, 03 Desember 2012
BERBAHAGIALAH YANG TIDAK MELIHAT NAMUN PERCAYA
Rosalia Yenita Widyaningrum
Pendidikan Matematika B/
12709251052
Kita
sebagai manusia beriman pastilah percaya bahwa kita adalah makhluk ciptaan
Tuhan yang sempurna. Mengapa sempurna? Jawabannya adalah karena kita makhluk
ciptaanNya yang terlahir dengan anugerah isimewa yang tidak dimiliki oleh
makhluk lain. Manusia mempunyai akal pikiran yang tidak dimiliki hewan atau
tumbuhan. Manusia memiliki akal dan pikiran yang membuatnya mampu berpikir
tentang mana yang baik dan mana yang buruk. Dengan anugerah yang ada, janganlah
manusia menjadi sombong dan merasa berkuasa atas makhluk ciptaan lain karena
kesombngan adalah kesalahan besar yng menyebabkan manusia jatuh ke dalam dosa.
Sebagai
makhluk yang berakal pikiran, kita juga harus beriman supaya apa yang kita
pikirkan dan kita lakukan tidak bertentangan dengan ajaranNya. Agama adalah
sarana manusia dalam mengenal Tuhan dan
memahami segala perintah dan laranganNya dan doa adalah sarana manusia dalam
berkominikasi dengan Sang Pencipta.Walaupun ada berbagai macam agama, saya
percaya bahwa semuanya baik dan semuanya mengajarkan kebenaran dan keimanan
kita terhadap Tuhan. Agama adalah sarana manusia dalam mendekatkan diri pada
Tuhan dan mengenal ajaranNya.
Kita
tahu bahwa Tuhan itu Sang Pencipata yang menguasai segala yang ada di dunia
ini. Ajaran agama pastilah telah mengajarkan umat manusia untuk selalu berbakti
dan percaya padaNya. Diantara makhuk ciptaan yang lain, pastilah ada yang tidak
percaya padaNya. Tidak semua manusia percaya pada Tuhan. Merekalah yang disebut
atheis. Mungkin mereka tidak percaya karena mereka memang tidak pernah
bertatapan muka denganNya. Dengan adanya alasan tersebut, mereka tidak percaya
bahwa ada yang menguasai seuruh kehidupan di muka bumi ini.
Mungkin
kita juga belum pernah bertemu langsung dengan Tuhan. Namun mengapa kita
percaya? Mengapa doa-doa kita juga selalu dipanjatkan kepadaNya, padahal kita
juga belum pernah bertemu langsung dan belum pernah bertatapan muka denganNya.
Sisi sprirtualitas kita yang akan menjawabnya. Saya juga belum pernah bertemu
langsung dengan Tuhan dan juga orang-orang kudus yang ada di surga, namun
dengan segenap hati saya, saya percaya sepenuhnya bahwa mereka ada. Hal inilah
yang juga menjadi kepercayaan manusia beriman yang lainnya, tanpa memandang
agama yang dianutnya. Agama hanyalah sarana, namun semuaya mempunyai tujuan
yang sama.
Bagaimana
kita mempercayai mereka yang sudah tiada dan belum pernah kita lihat bentuk
fisiknya. Keyakinan hati dan ituisi yang membawa kita untuk percaya sepenuhnya
pada Tuhan. Hal ini juga didukung dengan apa yang termuat di dalam kitab suci,
kitab suci ajaran apapun akan mengajarkan kebaikan dan ajaran-ajaranNya dan
dengan kitab suci tersebut kita bisa semakin mengenalNya. Keyakinan terhadap
Tuhan diawali dengan intuisi yang kita tidak tahu kapan dimulainya keyakinan
tersebut di dalam diri kita.
Dengan
adanya ajaran Tuhan, kita sebagai manusia di dunia ini juga selayaknya selalu
bersandar padaNya. Doa adalah sarana komunikasi dengan Tuhan. Kepercayaan kita
lah yang membuat kita yakin bahwa Dia selalu mendengar doa kita, dan
kepercayaan kita lah yang membuat kita yakin bahwa Dialah sang sutradara dalam
kehidupan kita. Jangan lah keimanan kita hanya menjadi mitos dalam hidup kita. Kita
harus tahu dan yakin untuk apa kita perlu berdoa. Keyakinan kitalah yang akan
membantu menjawab semuanya. Kita tidak perlu bertemu dengan Tuhan untuk percaya
padaNya. Yang harus kita lakukan adalah senantiasa berbuat baik sesuai dengan
ajarannya, karena pada dasarnya percuma jika kita selalu berdoa dengan khusyuk
namun perbuatan kita tidak selaras dengan ajaranNya. Dengan hal ini, keimanan
kita hanyalah akan menjadi mitos karena iman tanpa perbuatan pada hakekatnya
adalah mati. Semoga kita sebagai makluk Tuhan selalu percaya padaNya dan selalu
menghadirkan Tuhan di dalam hati kita lewat segenap perbuatan kita terhadap
Tuhan dan sesama. Berbahagialah yang tidak melihat namun percaya. Amin...
Pertanyaan :
Apakah keimanan kita itu dapt diukur?
Ataukah kita tidak perlu memikirkan tersebut karena yang perlu kita lakukan
adalah terus beriman dan berbuat baik
seturut kehendakNya?
Langganan:
Komentar (Atom)