Minggu, 01 Juni 2014

perangkat pembelajaran STAD yang terintegrasi dengan NHT

Berdasarkan UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bab XI pasal 40 dinyatakan bahwa pendidik dan tenaga kependidikan berkewajiban menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis. Hal tersebut bermakna bahwa suasana pembelajaran yang diharapkan terjadi di kelas bukanlah pembelajaran yang terpusat pada guru, namun suasana pembelajaran yang  menyenangkan dimana terjadi dialog yang baik antara guru dengan siswa, dan juga dengan sesama siswa.
Untuk melaksanakan hal tersebut, pembelajaran di kelas dapat dilakukan dengan menggunakan diskusi kelompok. Namun, pada kenyataannya, pelaksanaan diskusi rawan dengan adanya difusi tanggung jawab. Difusi tanggung jawab adalah ketimpangan yang terjadi di dalam melaksanakan tugas kelompok. misalnya, siswa yang berkemampuan rendah akan kurang dianggap di dalam kelompok dan ide-idenya juga kurang diperhatikan oleh kelompok. 
difusi tanggung jawab dapat diatasi dengan menerapkan pembelajaran kooperatif STAD (Student Team Achievemen Division). Pembelajaran kooperatif STAD terdiri dari lima tahapan yaitu presentasi kelas, team, kuis, skor kemajuan individual, dan rekognisi tim. Namun, dalam pembelajaran kooperatif STAD kontribusi dari siswa yang berkemampuan rendah menjadi berkurang. Dengan alasan tersebut, maka tanya jawab sangat diperlukan agar semua siswa selalu siap menjawab pertanyaan yang diberikan guru, dimana jawaban salah satu siswa akan menjadi jawaban kelompok. Hal tersebut mendorong agar siswa yang mempunyai prestasi kurang tidak diabaikan oleh kelompoknya, karena jika siswa tersebut terpilih, jawabannya akan menentukan skor kelompok. 
Proses tanya jawab dilakukan dengan menggunakan metode kooperatif NHT, karena prinsip dari metode NHT adalah melakukan tanya jawab dan memberikan pertanyaan kepada seluruh siswa, kemudian guru akan memilih siswa secara acak untuk menjawab pertanyaan yang diberikan. Jawaban yang diberikan oleh satu orang siswa akan menjadi jawaban kelompok, dan mempengaruhi nilai yang dimiliki oleh kelompok. dengan cara ini diharapkan, semua anggota kelompok saling memperhatikan pemahaman diri sendiri dan juga pemahaman anggota kelompok yang lain.
Namun, metode NHT ini juga memiliki kelemahan, yaitu bahwa tidak semua siswa dapat terpililih. dengan demikian, pelaksanaan kuis tetap dilaksanakan untuk menjamin bahwa semua siswa paham dengan materi yang dipelajari.

Silahkan mencoba pembelajaran STAD yang terintegrasi dengan NHT, 
klik link di bawah ini untuk menguduh perangkat, berupa RPP, LKS, PR, soal kuis da tanya jawab, dan juga soal pretes dan postes.
perangkat masih terbatas pada materi himpunan kelas VII SMP semester 2 saja.
bagi yang berminat mengembangkan perangkat pada materi pokok yang lain dipersilahkan.

terimakasih.


klik 
http://www.mediafire.com/download/pfiwb9ryb3boil1/Perangkat_Pembelajaran_STAD_yang_terintegasi_dengan_NHT.rar


Sabtu, 10 Mei 2014

perangkat pembelajaran STAD yang terintegrasi dengan NHT

Berdasarkan UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bab XI pasal 40 dinyatakan bahwa pendidik dan tenaga kependidikan berkewajiban menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis. Hal tersebut bermakna bahwa suasana pembelajaran yang diharapkan terjadi di kelas bukanlah pembelajaran yang terpusat pada guru, namun suasana pembelajaran yang  menyenangkan dimana terjadi dialog yang baik antara guru dengan siswa, dan juga dengan sesama siswa.
Untuk melaksanakan hal tersebut, pembelajaran di kelas dapat dilakukan dengan menggunakan diskusi kelompok. Namun, pada kenyataannya, pelaksanaan diskusi rawan dengan adanya difusi tanggung jawab. Difusi tanggung jawab adalah ketimpangan yang terjadi di dalam melaksanakan tugas kelompok. misalnya, siswa yang berkemampuan rendah akan kurang dianggap di dalam kelompok dan ide-idenya juga kurang diperhatikan oleh kelompok. 
difusi tanggung jawab dapat diatasi dengan menerapkan pembelajaran kooperatif STAD (Student Team Achievemen Division). Pembelajaran kooperatif STAD terdiri dari lima tahapan yaitu presentasi kelas, team, kuis, skor kemajuan individual, dan rekognisi tim. Namun, dalam pembelajaran kooperatif STAD kontribusi dari siswa yang berkemampuan rendah menjadi berkurang. Dengan alasan tersebut, maka tanya jawab sangat diperlukan agar semua siswa selalu siap menjawab pertanyaan yang diberikan guru, dimana jawaban salah satu siswa akan menjadi jawaban kelompok. Hal tersebut mendorong agar siswa yang mempunyai prestasi kurang tidak diabaikan oleh kelompoknya, karena jika siswa tersebut terpilih, jawabannya akan menentukan skor kelompok. 
Proses tanya jawab dilakukan dengan menggunakan metode kooperatif NHT, karena prinsip dari metode NHT adalah melakukan tanya jawab dan memberikan pertanyaan kepada seluruh siswa, kemudian guru akan memilih siswa secara acak untuk menjawab pertanyaan yang diberikan. Jawaban yang diberikan oleh satu orang siswa akan menjadi jawaban kelompok, dan mempengaruhi nilai yang dimiliki oleh kelompok. dengan cara ini diharapkan, semua anggota kelompok saling memperhatikan pemahaman diri sendiri dan juga pemahaman anggota kelompok yang lain.
Namun, metode NHT ini juga memiliki kelemahan, yaitu bahwa tidak semua siswa dapat terpililih. dengan demikian, pelaksanaan kuis tetap dilaksanakan untuk menjamin bahwa semua siswa paham dengan materi yang dipelajari.

Silahkan mencoba pembelajaran STAD yang terintegrasi dengan NHT, 
klik link di bawah ini untuk menguduh perangkat, berupa RPP, LKS, PR, soal kuis da tanya jawab, dan juga soal pretes dan postes.
perangkat masih terbatas pada materi himpunan kelas VII SMP semester 2 saja.
bagi yang berminat mengembangkan perangkat pada materi pokok yang lain dipersilahkan.

terimakasih.

klik
http://www.mediafire.com/download/pfiwb9ryb3boil1/Perangkat_Pembelajaran_STAD_yang_terintegasi_dengan_NHT.rar

Jumat, 11 Januari 2013

SUMBER ILMIAH PENDUKUNG PEMAHAMAN BERFILSAFAT


Rosalia Yenita Widyaningrum
Pendidikan matematika B / 12709251052
sebuah refleksi perkuliahan Filsafat Ilmu 

            Memahami filsafat tidak lepas dari pikiran para filsuf, dan tidak mudah  memahami pemikiran mereka. Pikiran dan ide para filsuf selalu mengalami perkembangan dan pendapat antara filsuf yang satu dengan filsuf yang lain berbeda. Pendapat para filsuf adalah pijakan  bagi kita dalam memikirkan segala yang ada dan yang mungkin ada. Plato dengan idealismenya, Rene Descartes, Leibniz, dan Blaise Pascal dengan rasionalismenya, Thomas Hobbes, David Hume, John Locke dengan empirismenya, Imauel Kant dengan critisismnya, Aguste Compte dengan positivismenya, dan masih banyak filsuf lain yang mungkin belum kebanyakan orang ketahui. Orang-orang tersebut hidup di zaman dahulu dan kita belum pernah bertemu dengan mereka. Lantas mengapa kita bisa mengenal mereka? Ya, kita bisa mengenal mereka melalui pemikiran-pemikirannya.
            Elegi yang dibuat oleh Pak Marsigit juga berisikan pendapat-pendapat para ahli yang dirancang sedemikian rupa sehingga kita bisa mengkonstruksi filsafat kita sendiri. Dengan membaca elegi, saya dan teman-teman yang lain pastinya juga bisa memperlajari aliran-aliran para filsuf. Dalam belajar filsafat, kita juga tidak bisa menelan mentah-mentah apa yang dikatakan oleh para filsuf. Para filsuf tersebut mempunyai aliran dan pemikiran yang berbeda-beda dan terkadang saling bertentangan antara aliran yang satu dengan aliran yang lain. Dalam mempelajari filsafat, kita juga harus mencoba mensintesikan pikiran para filsuf seperti dalam tugas akhir yang diberikan oleh Pak Marsigit dalam perkuliahan Filsafat Ilmu.
            Dalam  membuat tugas tersebut, pastilah banyak sumber yang saya gunakan untuk mendukung tulisan saya. Ada yang berbentuk pdf, ada sumber dari buku, ada pula yang berasal dari blog seseorang, dan setelah selesai menyelesaikan tugas, saya mengumpulkannya dengan perasaan lega. Namun ternyata, masih ada kekeliruan yang saya lakukan dalam membuat tugas tersebut. Kekeliruan yang saya lakukan adalah merujuk dari sumber yang kurang tepat.
             Rujukan sumber ternyata harus bersifat ilmiah. Maksud dari ilmiah disini adalah sumber-sumber yang meyakinkan dan layak dipercaya. Jika kita merujuk sumber dari blog seseorang yang namanya saja kita masih asing, maka sumber tersebut belum bisa dikatakan ilmiah. Banyak blog yang dibuat oleh orang-orang yang kurang kompeten di bidangnya, dan sekarang semua orang bisa membuat blog. Maka sumber blog pun belum bisa digunakan sebagai rujukan dan masih bersifat kurang ilmiah. Lalu bagaimana dengan sumber yang berupa makalah? Sumber yang berupa makalahpun juga harus diteliti, apakah makalah tersebut pernah diseminarkan atau belum, jika makalah tersebut kita ketahui pernah disampaikan dalam suatu kegiatan, maka makalah tersebut dapat digunakan, namun jika tidak sumber tersebut masih dikatakan kurang ilmiah.
         Sumber yang aman digunakan adalah sumber yang berupa jurnal, terlebih jurnal yang telah terakreditasi. Jurnal yang telah terakditasi telah diyakini bersifat ilmiah sehingga dapat digunakan sebagai rujukan. Sumber yang berasal dari buku pun harus kita waspadai siapa pengarangnya, karena banyak oknum yang membuat buku dengan tujuan ingin mencari uang dan bekerja sama dengan penerbit. Maka, kita harus waspada, siapa pengarag buku tersebut, apakah sesuai dengan bidang kependidikannya atau tidak.
  Intinya kita harus berhati-hati dalam merujuk sumber bacaan. Kualitas tulisan kita dilihat dari sumber yang kita gunakan, kualias sumber kita dilihat dari pengarangnya, dan kualitas pengarangnya dilihat dari sepak terjangnya dalam bidang yang ditulisnya dan karya-karya yang pernah dihasilkannya. Semoga kita semakin belajar dan dapat belajar dari setiap kesalahan yang kita lakukan.

Pertanyaan :
Jurnal dianggap sebagai sumber yang ilmiah, namun bagaimana jika ternyata jurnal tersebut juga dibuat oleh sembarang orang dan kurang berkompeten,apakah hal tersebut tetap dapat digunakan sebagai sumber ilmiah? Bagaimana cara kita memilih sebuah jurnal agar dapat kita percayai kebenarannya? Terimakasih pak...

Senin, 07 Januari 2013

JOHN LOCKE DAN TABULA RASA


JOHN LOCKE DAN TABULA RASA


Makalah Dibuat Dalam Rangka Melengkapi Tugas-tugas
Perkuliahan Filsafat Ilmu dari Dr. Marsigit M.A., Th 2012/2013



Description: UNY (1).JPG
Add caption



Disusun oleh:
Rosalia Yenita Widyaningrum, S.Pd
NIM : 12709251052
Pendidikan Matematika B



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
PROGRAM PASCA SARJANA
                                  UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA                
2013


DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL.................................................................................................... i
DAFTAR ISI............................................................................................................... ii
BAB I  PENDAHULUAN.......................................................................................... 1
BAB II  ISI
A.    Empirisme dan John Locke........................................................................... 4
B.     Tabula rasa ..................................................................................................6
C.     Tabula rasa dan Pembelajaran Matematika....................................................8
BAB III KESIMPULAN........................................................................................... 14
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................15
    


BAB 1
PENDAHULUAN

            Dunia pendidikan di negara kita sudah mengalami perkembangan. Hal ini ditandai dengan banyaknya sekolah yang ada di wilayah negara kita dengan berbagai kualitas yang berbeda-beda. Bermacam-macam model sekolah ada di Indonesia, mulai dari sekolah yang biasa-biasa saja sampai sekolah internasional yang didirikan berkat kerjasama antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah luar negeri. Banyaknya sekolah intermasional juga tidak berarti berkurangnya sekolah minim di Indonesia. Masih banyak seklah-sekolah yang minim fasilitas di dalam melaksanakan kegiatan belajarnya. Banyak sekolah-sekolah yang berdiri dengan bangunan yang tidak layak dijadikan sebagai ruang kelas. Pernah teman saya bercerita bahwa karena kondisi kelas yang idak memadai, maka kegiatan belajar dilaksanakan di makam samping sekolah. Kondisi inilah yang sangat bertolak belakang dengan situasi sekolah-sekolah internasional yang beradapat di kota besar yang berlimpah denga fasilitas.
            Banyak juga metode yang sekarang sudah mulai diterapkan dalam pembelajaran di Indonesia. Banyak metode, model dan juga pendekatan yang diciptakan untuk memperbaiki metode ceramah yang akhir-akhir ini dinilai tidak efektif. Abimanyu ( 2007 : 4) menyataan bahwa metode ceramah memiliki beberapa kelemahan, yaitu siswa dapat menjadi jenuh terutama jika guru tidak pandai menjelaskan, dapat menimbulkan verbalisme pada siswa, materi ceramah terbatas pada apa yang diingat guru, siswa yang mempunyai ketrampilan kurang dalam hal mendengarkan akan dirugikan, sisw dijejali dengan konsep yang belum tentu dapat diingat terus menerus, terkadang informasi yang disampaikan sudah ketinggalan zaman, tidak merangsang berkembangnya kreatifitas siswa, dan terjadinya interaksi satu arah, yaitu dari guru terhadap siswa.
            Menanggapi dari apa yang telah disampaikan di atas, penulis setuju dengan informasi tersebut. Menurut pengamatan dan pengalaman penulis, metode ceramah membutuhkan kreatifitas guru yang lebih besar jika dibandingkan dengan metode yang lain. Kreatifitas yang dimaksud disini adalah kreatifitas dalam menyampikan materi pembelajaran dalam bentuk ceramah tersebut. Kreatifitas dapat ditunjukkan denga menampilkan lelucon yang dapat menyegarkan suasana. Jika guru hanya sekedar menyampikan materi secara terus menerus tanpa variasi, siswa akan mudah menjadi bosan dan ujung-ujungnya akan menjadi kurang fokus dengan materi yang sedang dipelajari. Metode ceramah adalah salah satu metode yang berpusat pada guru dan bukanlah siswa. Dalam hal ini, siswa tidak akan mengalami pembelajaran yang bermakna jika hanya mendengarkan saja. Maka dari itu, ceramah menyebabkan pengetahuan tidak bertahan lama dalam pikiran siswa. Pembelajaran yang dilaksanakan dengan  metode ceramah juga tidak menjadikan siswa sebagai aktor dalam pembelajaran. Pembelajaran dengan metode ceramah akan tetap akan membuat siswa paham dengan materi yang diajarkan, hanya sifatnya tidak akan bertahan lama. Mungkin saat itu mereka paham dan akan cepat lupa.
            Dengan segala kekurangan yang ada, tidak berarti metode ini tidak mempunyai keuntungan. Abimanyu (2007 : 4) menguraikan beberapa keuntungan metod ceramah, diantaranya metode ini murah dalam artian efisien jika dilihat dari segi waktu dan biaya, dan tersedianya guru dan mudah dalam arti materi yang dapat disesuaikan dengan terbatasnya waktu. Dalam pembelajaran, metode ceramah terkadang juga dibutuhkan, namun porsinya tetap harus dibatasi dan tetap memperhatikan konstruksi pengetahuan dalam diri siswa dan perlu diingat pula bahwa peran guru adalah sebagai fasilitator dan bukan aktor.
            Banyak metode pembelajaran yang telah dikembangkan dengan tujuan memberikan pembelajaran yang bermakna bagi siswa. Pembelajaran sangat erat kaitannya dengan perkembangan siswa. Dari berbagai metode pembelajaran juga sebaiknya disesuaikan dengan kondisi psikologis perkembangan siswa. Metode yang paling unggul seakalipun jika tidak diterapkan dengan benar pada kondisi yang tepat juga pada akhirnya tidak akan membawa hasil yang baik pula. Jika siswa tidak siap dengan penggunaan suatu metode, maka sama halnya metode pembelajaran tersebut tidak membawa dampak yang signifikan. Contohnya adalah penggunaan metode kooperatif yang menggharapkan siswa belajar di dalam kelompok. Bagaimana jika siswa belum mampu diajak berdiskusi dan siswa mash bersifat pasif? Maka sama halnya metode tersebut gagal untuk dilakukan. Kombinasi antara kebutuhan, kesiapan dan juga kreatifitas guru sangat mempengaruhi keberhasilan metode yang dilaksanakan di kelas.   
            Guru sebagai fasillitator dalam pembelajaran dapat saya umpamakan sebagai sutradara yang mengatur jalannya pembelajaran dan yang mempunyai arahan akan dibawa kemana pembelajaran yang dilaksanakan. Guru yang memfasilitasi siswa dalam belajar dan siswanya yang harus mengembangkan pengetahuannya, tentunya dengan bimbingan yang diberikan guru. Inilah tantangan bai guru dalam memfasilitasi kegiatan belajar siswa yang memiliki berbagai macam kemampuan, dengan kepribadian yang berbeda dan juga dengan pengetahuan awal yang berbeda demi mencapai kompetensi yang diharapkan.
            John Locke (1632 – 1704) sangat terkenal dengan konsep tabula rasa atau kertas kosong, dimana jiwa seseorang bagaikan kertas putih. Kertas putih ini kemudian akan mendapatkan coretan atau tulisan dari unsur luar. Dalam hal ini, keputusan akan berada ditangan unsur luar. Terserah kepada unsur luar akan menulisi dengan sesuatu yang berwarna merah atau putih, hijau dan sebagainya. Apakah sebenarnya teori tabula rasa itu, dan bagaimana hubungnnya dengan pembelajaran? Secara lengkapnya akan dibahas di dalam bab selanjutnya.


BAB II
ISI

            Dengan apa yang telah disampaikan dalam bagian pendahuluan, bahwa teori tabula rasa menanggap jiwa seeorang bagaikan kertas putih yang harus diisi dengan berbagai macam hal sehingga kertas tersebut berwarna dan memiliki makna. Dengan adanya hal tersebut, penulis ingin membuat sintesis dari apa yang diungkapkan oleh John Locke.

A.  Empirisme dan John Locke
John Locke adalah seorang filsuf Inggris dari pahan empirisme yang cukup terkenal. John Locke lahir pada tanggal 29 Agustus 1632 di Wrington Inggris dan meninggal pada tanggal 28 Oktober 1704. Dia dibesarkan oleh ayahnya seorang pengacara yang bekerja sebagai juru tulis hakim di Somersetshire dan menjadi kapten angkatan bersenjata di Long Parliament selama pemerintahan Raja Charles 1. Pada tahun 1646, tepatnya ketika  John Locke berusia 14 tahun, dia diterima di Westminster School. Di sekolah tersebut, selama 6 tahun ia mencurahkan segala perhatiannya pada pelajaran bahasa latin dan Yunani disamping pelajaran-pelajaran lainnya yang diberikan di tingkat sekolah menengah.
Pada tahun 1652, dia diterima di Christ Chruch College, Universitas Oxford. Di sekolah tersebut, dia mempelajari retorika bahasa, filsafat moral, ilmu ukur, fisika, bahasa latin, arab, dan yunani. Dia mendapatkan gelr sarjana muda pada tahun 1656 dan sarjana penuh pada tahun 1658. Pada yahun 1660, dia memperoleh beasiswa sebagai mahasiswa senior dan diberikan hak istimewa utuk tetap berada di Universitas tersebut untuk selama-lamanya. Dengan beasiswa tersebut, dia bekerja sebagai pembimbing untuk mata pelajaran retorika, bahsa Yunani dan filsafat.
Pada tahun 1665, dia menjadi sekretaris misi diplomatik kerajaan Inggris di Brandenburg dan pada tahun 1666 kembali lagi ke Inggris dan mempelajari ilmu kedokteran. Sejak Locke menyembuhkan salah satu duta Kerajaan Inggris, dia mulai bekerja untuk pemerintahan. Sejak itulah, pandangan–pandangan terhadap berbagai masalah mulai terangkat dan dipublikasikan. 
John locke adalah salah seorag filsuf empirise, dimana empirisme adalah sebuah aliran filsafat yang memberikan tekanan pada empiris atau pengalaman sebagai sumber pengetahuan (Susanto, 2011 : 37). Istilah empiris bersal dari kata dalam bahasa Yunani, emperia, yang berarti pengalaman inderawi. Jelas terdapat perbedaan dengan aliran rasionalisme yang sangat memeningkan rasio dalam mengembangkan pengetahuannya, dalam menentukan sesuatu dan dalam menyelesaikan masalah. Seperti yang dikemukakan oleh Descartes dalam metodenya yaitu :
1.      Tidak menerima suatupun sebagai kebenaran, keuali bila saya melihat hal itu dengan tegas dan jelas sehingga tidak ada suatu keraguan apapun yang mampu merobohkannya.
2.      Pecahkan setiap kesulitan atau masalah itu sebanyak mungkin bagian, sehingga tidak ada suatu keraguan apapun yang mampu merobohkannya.
3.      Bimbinglah pikiran dengan teratur, dengan memulai dari hal yang sederhana dan mudah untuk diketahui, kemudian secara bertahap sampai pada hal yang paling sulit dan kompleks.
4.      Dalam proses pencarian dan pemeriksaan hal-hal sulit, selamanya harus dibuat perhitungan-perhitungan yang sempurna serta pertimbangan-pertimbangan yang menyeluruh, sehingga kita yakin bahwa tidak ada satu pun yang mengabaikan atau ketinggalan dalam penjelajahan itu. (Susanto, 2011 : 37).
Dengan demikian, aliran empirisme sangat bertentangan dengan aliran rasionalisme jika diliht dari segi sumber pengetahuannya. Karena John Locke adalah salah seorang penganut empirisme, maka teorinya juga berkaitan dengan empirisism atau pengalaman.
Tabula rasa atau lembaran kertas kosong atau dapat dikatakan bahwa jiwa seseorang seperti kertas kosong yang dapat diisi sehingga jiwa tersebut menjadi berwarna dan berisi. Tabula rasa menganggap bahwa otak manusia adalah sebuah penerima pasif yang memperoleh pengatahuan dari pengalaman dan diserap melalui panca indera. Berbagai gagasan sederhana dan kemudian dihubungkan atau digabungkan menjadi pemikiran yang berkaitan (faiz, 2008 : 3). Karena John Locke adalah filsuf empirisme, maka teori tabuala rasa ini sangat dekat hubungannya dengan teori pengalaman sebagai sumber pengetahuan.

B.  Tabula rasa
Mastrianni (2012) menyatakan bahwa tabula rasa atau “blank slate” telah menjadi perdebatan selama beberapa abad. Meskipun teori tabula rasa ini pertama kali muncul di zaman Yunani kuno, namun hal ini paling sering dikaitkan dengan dengan filsuf Inggris, John Locke (1632-1704). Locke mengemukakan bahwa manusia dilahirkan dengan suatu keadaan dimana tidak ada bawaan yang akan dibangun pada saat lahir. Locke menyatakan bahwa segala sesuatu yang kita pelajari dalam hidup adalah hasil dari hal-hal yang kita amati dengan menggunakan indera kita. Dia menyimpulkan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk mengendalikan pertumbuhan karakter mereka sendiri, meskipun tidak ada yang bisa memisahkan perkembangan ini dari identitas manusia sebagai anggota dari umat manusia.
Aristoteles (384 SM -322 SM) dalam tulisannya yang berjudul De Anima, disebutkan bahwa pikiran sebagai pikiran kosong. Lebih dari 1000 tahun kemudian, pada abad ke -11 teori tabula rasa muncul di Persia kuno dalam tulisan Ibnu Sina, seorang filsuf Persia. Ibnu Sina menyatakan bahwa pikiran saat lahir adalah batu tulis kosong dan pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman dengan benda nyata dan dari pengalaman itu kemudian digunakan untuk mengembangkan konsep abstrak tentang benda-benda, dan bukan sebaliknya.
John-Jacques Rosseau (1712-1728), sebagai sesama penganut aliran empirisme juga menyatakan persetujuannya dengan teori tabula rasa. Rosseau percaya bahwa sifat manusia merupakan akibat langsung dari pengalaman dan lingkungan, yang  diberikan dalam keadaan berbeda-beda. Laki-laki juga akan mengalami perkembangan yang berbeda dengan perempuan. Pendapat ini berbeda dengan pandangan Thomas Hobbes yang mengemukakan bahwa laki-laki biasanya mempunyai kelakukan yang lebih buruk daripada wanita sehingga biasanya mereka ditempatkan di barisan terdepan oleh polisi.
Dalam Essay Concerning Human Understanding, John Locke mengingatkan kembali mengenai pentingnya pengalaman. Pada saat lahir, mereka bagaikan kertas kosong yang  kemudian diisi dengan berbagai pengalaman. Pada awalnya, manusia memulai dengan konsep-konsep yang sederhana, dan kemudian dilajutkan dengan konsep yang lebih kompleks. Hal ini juga tercantum di dalam tulisannya, yaitu :

Let us then suppose the mind to be, as we say,white paper void of all characters, wit hout any ideas. How comes it to b furnished? Whence comes it by that vast store which the busy and boundless fancy of man has painted on it with an almost endless variety? Whence has it all the materials of reason and knowledge? To this I answer, in the one word , from EXPERIECE. (Dawkins, 2009).

Tabula rasa erat kaitannya dengan pengalaman, dan dengan hal ini John Locke tidak mengakui adanya intuisi yang membangun pemahaman manusia. Segala yang diketahui oleh seorang anak hanyalah akibat dari apa yang diajarkan oleh orangtuanya. Setiap anak lahir dengan kemampuan yang sama dan setelah itu perkembangannya berdasarkan apa yang diberikan oleh orang tuanya. Teori ini tidak mengakui adanya kemampuan awal yang ada dalam setiap diri anak. Jadi, sejak lahir, seorang anak tidak mempunyai bakat dan pembawaan apa-apa, dan segala yang akan terjadi merupakan tanggung jawab penuh dari pendidiknya, entah guru atau orangtuanya. Tabula rasa juga tidak mengakui adanya kemampuan awal atau bakat awal dan diwariskan dari orangtuanya.
Berdasarkan teori tabula rasa ini, sebelum anak-anak mengenyam bangku sekolah dan bertemu dengan guru, orangtualah yang sepenuhnya bertanggungjawab terhadap apa yang akan diajarkan kepada anak. Segala yang diajarkan oleh orang tua, itulah ilmunya. Jika ilmu tersebut berasal dari bentukan dan didikan oragtuanya maka sikap anak tersebut juga akan selaras dengan apa yang diajarkan orang tua.  Jika orangtua mengajarkan tentang kebaikan dan kasih sayang,  maka terisilah pemahaman siswa tentang kebaikan. Sebaliknya jika anak tersebut berisi dengan hal-hal yang kurang baik, maka kelakuannya juga tidak akan menjadi baik.  Locke mengatakan bahwa orang tua dan pembimbing harus menjadi contoh dan memperlihatkan sifat-sifat dan kepribadian yang baik, yang meliputi kebaikan, pendidikan yang baik, dan hal-hal yang dihormati serta dapat ditiru oleh anak-anak. Seorang anak yang mencoba untuk mencontoh hal-hal baik tersebut harus diberi pujian, didorong untuk melakukan hal yang baik kembali, diperbaiki, ditegur, atau dibimbing jika perlu tetapi jangan dibebani dengan kritik yang berlebihan dan tidak berguna (mudhokhi, 2008). Locke juga menganjurkan agar tidak mengisi kepala anak-anak dengan “sampah” atau hal-hal yang tidak berguna karena mereka tidak akan memikirkan hal-hal tersebut lagi selama hidupnya. Pendidikan harus bersifat praktis, berguna, memiliki makna, menyenangkan dan anak didik harus dihormati dan diperlakukan seperti orang dewasa. Selain itu, siswa juga diberi kesempatan untuk mengeluarkan pendapatnya, belajar dari pengalaman yang nantinya dia akan memperoleh berbagai kemampuan yang berguna bagi hidupnya. Tabula rasa John Locke mengatakan bahwa lebih baik belajar dari pengalaman dibandingkan belajar dari buku-buku, namun belajar dari buku juga tidak serta merta dilupakan begitu saja. Dengan pengalaman yang telah dia alami dan ada dalam hidupnya, maka kelak individu tersebut dapat menentukan langkah hidup selanjutnya dan memilih apa yang terbaik untuk dirinya.

C.  Tabula rasa dan Pembelajaran Matematika
Jiwa seseorang dianggap sebagai kertas kosong, itulah apa yang digambarkan di dalam konsep tabula rasa. Kertas itu nantinya aka diisi dengan segala hal dan menjadikannya berwarna. Tabula rasa ini juga telah mempunyai pengaruh di dalam dunia pendidikan. Terkadang dalam suatu pembelajaran, siswa diibaratkan dengan kertas putih dengan pemahaman yang masih kosong, dan kemudian guru bertugas untuk mengisinya dengan materi-materi yang akan membuat lembaran kosong itu terisi dengan materi-materi yang diberikan guru. Pengetahuan yang dimiliki siswa tergantung dari apa yang diberikan guru. Hal  yang diberikan guru akan menjadi pengalaman yang berguna bagi siswa dan akan digunakan kembali dalam membentuk pengetahuan yang akan datang.
Tabula rasa erat kaitannya dengan pengalaman, dan menurut analisis penulis, pengalaman juga mempunyai peran yang penting dalam pembentukan pengetahuan manusia. Seorang siswa juga dapat menggunakan pengalaman belajarnya yang lalu untuk mengembangkan pemikirannya yang baru. Dengan belajar, siswa aka memperoleh pengalaman berharga tentang apa yang telah dipelajari. Namun belum tentu juga dengan pembelajaran yang telah dilakukan, siswa akan mempunyai pengalaman yang berharga. Pengalaman siswa akan terbentuk jika pembelajaran itu bermakna baginya dan berkesan sehingga tidak akan mudah untuk dilupakan.
Guru sebagai fasilitator dalam pembelajaran hendaknya dapat memberikan fasilitas yang dapat digunakan oleh siswa untuk membentuk pengetahuannya. Fasilitas yang diberikan adalah fasilitas dalam bentuk model pembelajaran yang digunakan guru. Guru dapat mengorganisir model pembelajaran yang  cocok, yang dapat memberikan pengalaman belajar bagi siswa dan juga pas dengan kemampuan siswa untuk melakukannya. Dalam hal ini, guru dapat menggunakan pendekatan inkuiri (penemuan) dimana dengan menemukan, pengetahuan akan bertahan lama di dalam pikiran siswa. Pengalaman yang dia alami di pembelajaran ini akan diingatnya terus dan digunakan sebagai bekal dalam memahami materi lain yang berhubungan. Jika pembelajaran yang dilakukan dan dialami tidak memberikan manfaat dan pengalaman yang baik, maka sama halnya pemelajaran yang dilakukan tidak memiliki makna yang baik dan akan mudah untuk dilupakan siswa. Jika selama mengalami pembelajaran siswa hanya masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri, maka sama halnya pembelajaran itu menjadi kurang bermakna.
Berdasarkan Ebbut dan Straker dalam (Marsigit, 2011), matematika adalah sebuah kegiatan yang hakekatnya dapat dijelaskan sebagai berikut :
1.    Matematika adalah kegiatan penelusuran pola dan hubungan.
Kegiatan penemusuran pola dan hubungan dapat dilakukan dengan memberian kesempatan kepada siswa untuk melakukan kegiatan penemuan dan juga penyelidikan pola-pola untuk menentukan hubungan serta memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan penyelidikan dan percobaan dengan menggunakan tberbagai cara. Dalam hal ini, pengalaman memegang peranan penting dalam membantu siswa menentukan dan menemukan adanya pola yang terjadi. Ilmu yang telah diperoleh di masa lampau dapat dijadikan sebagai dasar dalam memahami materi yang akan datang.
2.    Matematika adalah kreatifitas yang memerlukan imajinasi, intuisi, dan penemuan.
Imajinasi, intuisi, dan penemuan merupakan hal-hal yang digunakan dalam menghadapi matematika. Dalam hal ini, guru diharapkan dapat mendorong inisiatif siswa  dan juga mendorong rasa ingin tahu. Menyelesaikan soal matematika juga membutuhkan intuisi. Intuisi dibutuhkan untuk mengetahui langkah apa yang kira-kita tepat digunakan untuk menyelesaikan soal tersebut. menurut analisis penulis, intuisi yang kita punya dapat memberikan penilaian apakah proses yang kita lakukan sudah tepat atau belum. Intuisi tidak memiliki pondamen, maka kita tidak tahu kapan dimulainya susunan intuisi dalam pikiran kita.
3.    Matematika adalah kegiatan problem solving.
Matematika adalah kegiatan problem solving. Dengan demikian, hal ini dapat dilakukan dengan merangsang siswa untuk melakukan pemecahan masalah matematika dengan menggunakan caranya sendiri dan tentunya dengan menggunakan bantuan dari guru.
4.    Matematika merupakan alat komunikasi.
Matematika adalah alat komunikasi dan pandangan ini daat dilakukan dengan mengenal sifat matematika, mendorong siswa membuat conth matematika, merangsang siswa menjelaskan sifat matematika, dan juga mendorong siswa membicarakan persoalan matematika.
Dengan demikian, pembelajaran matematika dengan kegiatan penbelajaran yang berpusat pada siswa (student centered).

Pengalaman merupakan hal yang perlu diperhatikan dalam pembentukan pengetahuan, namun menurut analisis penulis, setiap manusia yang lahir sudah dibekali dengan kemampuan awal di dalam pikirannya sehingga tidak dapat dikatakan jiwa manusia berupa kertas putih yang kosong. Saya percaya bahwa setiap manusia telah mendapatkan warisan yang dibawanya sejak lahir. Setiap manusia mempunyai kecederunan khas sebagai warisan yang dibawanya sejak lahir yang akan mempengaruhi kepribadiannya pada waktu dewasa. Akan tetapi, warisan genetik hanya menentukan kepribadian setiap orang. Tumbuh dan bekembangnya potensi tidak seperti garis lurus, namun ada potensi terjadi penyimpangan. Faktor genetik memang mempengaruhi keprbadian, namun tidak bersifat mutlak, masih banyak faktor –faktor lainnya. Hal ini bertolak belakang dengan apa yang dijelaskan di dalam prinsip tabula rasa. Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa tabulrasa meyakini pembentukan karakter melalui apa yang diberikan oleh dunia luar, dan tidak meyakini adanya kemampuan awal yang  merupakan warisan dari kedua orang tuanya karena setiap jiwa terlahir sebagai kertas putih.
Sesuai dengan apa yang telah disampaikan di atas, bahwa matematika adalah kegiatan penelusuran pola dan hubungan, matematika adalah kegiatan yang memerlukan imajinasi, intuisi, dan penemuan, matematika adalah kegiatan problem solving, dan matematika adalah komunikasi. Matematika jelas memerlukan intuisi, dan kita tidak pernah tahu kapan berlangsungnya intuisi di dalam pikiran kita, entah sejak lahir, atau kapan. Intuisi tidak memiliki pondamen, sehingga kita tidak pernah tahu kapan ada dan dimulainya di dalam pikiran kita. Dengan demikian, tidak benar secara sepenuhnya jika kita mengatakan  bahwa manusia lahir sebagai kertas putih yang kosong. Teori tabula rasa John Locke juga ternyata tidak mengakui adanya intuisi, karena dia kemampuan yang ada di dalam diri manusia adalah goresan pena dari para pengisinya.
Saya sempat berfikir, bagaimana guru secara terus menerus menganggap siswa sebagai lembaran kosong yang harus diisi dengan pengetahuan-pengetahuan? Bagaimana jika suatu saat bejana itu penuh dan pecah? Bagaimana jika pengetahuan yang dimiliki guru tidak cukup memadai dan bukankah sumber pembelajaran itu tidak selamanya berasal dari guru, mengingat posisi guru hanyalah sebagai fasilitator. Siswa yang satu juga bisa menjadi sumber belajar bagi siswa yang lain. Jika menemukan suatu kesulitan, tidak harus seorang siswa itu bertanya langsung kepada guru, tetapi bisa juga bertanya kepada teman yang lain terlebih dahulu dan terkadang penjelasan teman lebih mudah dipahami daripada penjelasan guru sendiri.  Banyak buku pelajaran, LKS dan sumber belajar dan media pembelajaran yang dapat digunakan sebagai sumber pembelajaran yang baik. Semakin banyak sumber yang ada, maka semakin banyak hal baru yang dapat diperoleh. Guru bukanlah satu-satunya sumber pembelajaran yang tersedia di kelas. Pembelajaran akan menjadi aktif dan hidup jika semua elemen yang ada di dalamnya ikut berperan aktif.
Tabula rasa ini membawa pengaruh yang cukup besar dalam sistem pembelajaran konvensional. Dalam praktiknya di dalam pembelajaran konvensional, guru terlalu terlihat aktif di dalam pembelajaran. Dalam hal ini, siswa memang tidak pasif secara mutlak, tetapi aktivitas siswa yang timbul sangat sedikit sekali, yaitu hanya terbatas pada mendengarkan, mencatat, dan menjawab pertanyaan dari guru. Kegiatan para siswa hanya terbatas terhadap apa yang diperintahkan guru dan cara yang ditetapkan guru.
Tabula rasa tidak selamanya merupakan paham yang salah, karena merupakan pola pikir yang masih konvesional. Walaupun terdapat paham yang sudah tidak sesuai dengan perkembangan pendidikan masa kini, namun pembelajaran dengan berdasarkan pengalaman masih dapat diterapkan dengan baik. Pembelajaran yang bermakna memang diperlukan di dalam pembelajaran. Pembelajaran yang bermakna akan tinggal dengan lama di dalam pikiran siswa. Pikiran siswa bukan sepenuhnya kertas kosong yang harus diisi, melainkan kertas yang sudah terisi dengan pengatahuan awal yang berbeda-beda, dan dengan pembelajaran akan menambah warna-warna yang terdapat di dalam kertas tersebut.
Tabula rasa erat dengan pengalaman, dan pengalaman itu membantu seseorang untuk memahami pengetahuan yang baru. Jika hal ini dikaitkan dengan konsep tabula rasa yang menganggap jiwa siswa bagikan kertas kosong, bagaimana dengan pengetahuan awal yang sudah diterima pada kelas sebelumnya. Sudah tentu pasti mereka telah mempunyai pengalaman belajar di kelas sebelumnya. Dengan demikian, tampaknya tabula rasa John Locke mengalami sedikit kontradiksi di dalam penerapannya di dalam dunia pendidikan.

                                                                      BAB III
KESIMPULAN

Tabula rasa menganngap pikiran manusia bagaikan kertas putih yang nantinya akan diisi dan menjadi berwarna.  Tabula rasa adalah salah satu cabang dari aliran empirisme yang mendasarkan teorinya berdasarkan pengalaman. Dengan demikian, tabula rasa erat dengan pengalaman. Jika dikaitkan dengan proses pembelajaran di dalam kelas, pengalaman belajar juga mengambil peran penting dalam terbentuknya pemahaman siswa. Pembelajaran yang baik juga pembelajaran yang memberikan pengalaman bagi siswa. Pengalaman yang baik akan menjadikan materi yang dipelajari juga akan bertahan lama dalam diri siswa.
Tabula rasa tidak dapat dipercaya secara penuh jika diterapkan di dalam pembelajaran, karena tabula rasa masih memegang konsep bahwa pikiran siswa adalah lembaran kosong yang dapat diisi dengan materi-materi dari guru. Dalam hal ini, peran guru menjadi lebih aktif di kelas, dan siswa hanya mendengarkan, mencatat, dan menjawab pertanyaan dari guru. Peran siswa menjadi lebih sedikit dan tidak menjadi aktor di dalam pembelajaran. Pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk menjadi aktor di dalam pembelajaran dan diharapkan pembelajaran itu akan membawa sesuatu yang bermakna.
Terdapat sifat yang masih kontradiksi dalam konsep tabula rasa. Tabula rasa mementingkan pengalaman sebagai faktor pembentuk dari pengetahuan siswa. Jika dihubungkan dengan tabula rasa dimana pikiran siswa adalah kertas putih kosong, bagaimana dengan pengalaman-pengalaman yang sudah diterima sebelumnya?  



DAFTAR PUSTAKA

Abimanyu, Soli. 2007. Metode Pembelajaran yang Lebih Berpusat Pada Guru.
Dawkins, Richard, et.al. 2009. John Locke Mind as a Tabula Rasa. Diakses dari http://www.age-of-the-sage.org/philosophy/john_locke_tabula_rasa.html. Diakses pada tanggal 27 November 2012.
Mudhokhi, faiz. 2008. Paradigma Pendidikan John Locke dan Robert Owen. Diakses dari http://faizperjuangan.wordpress.com/2008/02/12/paradigma-pendidikan-john-locke-dan-robert-owen-sebuah-tugas-kuliah/ pada tanggal 27 November 2012.
Marsigit,M.A. 2011. Elegi Pemberontakan Matematika 9 : School Mathematics. Diakses dari http://powermathematics.blogspot.com/search?updated-min=2011-01-01T00:00:00%2B07:00&updated-max=2012-01-01T00:00:00%2B07:00&max-results=50 tanggal 27 November 2012.
Mastrianni, Steve. 2012. Tabula Rasa – Reductio Ad Absurdum. Diakses dari
Susanto. 2011. Filsafat Ilmu Suatu Kajian dalam Dimensi Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologis. Jakarta : Bumi Aksara.
http://id.wikipedia.org/wiki/John_Locke diakses pada tanggal 26 Desember 2012.

Senin, 17 Desember 2012

INISIATIF UNTUK MEMBANGUN DUNIA PIKIR


Rosalia Yenita Widyaningrum
Pendidikan Matematika B / 12709251052


            Kita semua adalah mahkluk ciptaanNya yang sempurna, yang dianugerahi dengan segenap kemampuan yang menjadikan kita istimewa. Kemampuan yang ada dalam diri kita adalah sebuah sarana yang digunakan dalam melengkapi dan mengisi hidup kita. Segala hal yang ada dalam hidup kita tidak terjdi secara otomatis, namun dapat terjadi karena adanya usaha yang kita lakukan. Segala yang kita punya memang anugerah dariNya, namun jika kita tidak berusaha anugerah juga tidak akan datang. Jadi, dapat dikatakan bahwa anugerah adalah hadiah atas usaha kita.
            Segala yang kita punya tidak akan datang secara tiba-tiba jatuh dari langit. Segalanya memerlukan usaha dan juga proses. Demikian halnya dengan pengetahuan yang kita punyai. Suatu pengetahuan yang kita miliki tidak mungkin datang secara tiba-tiba. Kita tahu karena kita berproses. Pengetahuan dapat berasal dari orang lain, dari media dari kehidupan sehari-hari dan juga dapat berasal dari kesalahan yang pernah kita lakukan. Pengetahuan kita tidak akan berkembang jika kita tidak punya inisiatif dan kemauan untuk terus mau belajar. Saya pernah menjadi seorang siswa, dan sekarangpun juga masih menjadi seorang siswa. Jika saya tidak mempunyai kemauan untuk belajar secara mandiri, maka pengetahuan yang saya punya tidak akan berkembang.
            Inisiatif membutuhkan motivasi. Jika kita tidak termotivasi, bagaimana kita akan mempunyai inisiatif. Inisiatif adalah langkah awal dalam membangun pengetahuan kita. Seperti cerita Pak Marsigit yang melakuan supervisi di SMP N 1 Balikapapan. Pada mulanya Pak Masigit belum mengetahui bagaimana kondisi yang ada di sana. Namun dengan inisiatif untuk mendatangi kantor dinas terlebih dahulu, pengetahuan beliau sedikit demi sedikit mulai berkembang. Terlebih lagi ketika menyaksikan bagaimana proses pembelajaran yang ada disana. Semakin lama pengetahuan beliau tentang SMP N 1 Balikpapan semakin berkembang, jika diumpamakan seperti pohon yang daunnya tumbuh subur dan sudah berbuah. Dengan demikian, Pak Marsigit memperoleh pengetahuannya melalui inisiatif. Hal itulah yang disebut dengan konstruktivisme.
            Dengan cerita dari beliau, yang dapat saya tangkap adalah bahwa pengetahuan itu berdimensi, pengetahuan itu berproses, dan pengetahuan itu memerlukan insiatif. Pengetahuan itu berproses, karena tahap kita mengetahui juga berproses. Pengetahuan itu memerlukan inisiatif karena inisiatif adalah langkah awal dalam membangun konstruksi pengetahuan dalam diri kita.
            Dengan adanya inisiatif yang ada, kita tidak hanya sekedar menjadi pengikut saja, namun kita juga mempunyai pendirian. Dengan pengalaman, kita dapat membentuk inisiatif dan kemudian dapat mengkonstruksi pengetahuan yang ada dalam diri kita sehingga menjadi semakin besar dan berkembang. Dengan demikian, pengetahuan yang kita miliki tidak bersifat statis dan mandeg, namun terus mengalami perkembangan dan semakin menjadikan kita makhluk ciptaanNya yang istimewa. Semoga kita dapat menjadi manusia yang semakin baik dari hari ke hari dan nantinya kita sebagai guru juga dapat semakin berinisiatif dalam menciptakan pembelajaran yang membuat siswanya berani untuk berinisiatif.

Pertanyaan :
Apakah inisiatif juga bersifat trial and error? Maksudnya bagaimana jika inisiatif kita ternyata berada di jalan yang salah.

Senin, 03 Desember 2012

BERBAHAGIALAH YANG TIDAK MELIHAT NAMUN PERCAYA


Rosalia Yenita Widyaningrum
Pendidikan Matematika B/ 12709251052


            Kita sebagai manusia beriman pastilah percaya bahwa kita adalah makhluk ciptaan Tuhan yang sempurna. Mengapa sempurna? Jawabannya adalah karena kita makhluk ciptaanNya yang terlahir dengan anugerah isimewa yang tidak dimiliki oleh makhluk lain. Manusia mempunyai akal pikiran yang tidak dimiliki hewan atau tumbuhan. Manusia memiliki akal dan pikiran yang membuatnya mampu berpikir tentang mana yang baik dan mana yang buruk. Dengan anugerah yang ada, janganlah manusia menjadi sombong dan merasa berkuasa atas makhluk ciptaan lain karena kesombngan adalah kesalahan besar yng menyebabkan manusia jatuh ke dalam dosa.
            Sebagai makhluk yang berakal pikiran, kita juga harus beriman supaya apa yang kita pikirkan dan kita lakukan tidak bertentangan dengan ajaranNya. Agama adalah sarana manusia dalam  mengenal Tuhan dan memahami segala perintah dan laranganNya dan doa adalah sarana manusia dalam berkominikasi dengan Sang Pencipta.Walaupun ada berbagai macam agama, saya percaya bahwa semuanya baik dan semuanya mengajarkan kebenaran dan keimanan kita terhadap Tuhan. Agama adalah sarana manusia dalam mendekatkan diri pada Tuhan dan mengenal ajaranNya.
            Kita tahu bahwa Tuhan itu Sang Pencipata yang menguasai segala yang ada di dunia ini. Ajaran agama pastilah telah mengajarkan umat manusia untuk selalu berbakti dan percaya padaNya. Diantara makhuk ciptaan yang lain, pastilah ada yang tidak percaya padaNya. Tidak semua manusia percaya pada Tuhan. Merekalah yang disebut atheis. Mungkin mereka tidak percaya karena mereka memang tidak pernah bertatapan muka denganNya. Dengan adanya alasan tersebut, mereka tidak percaya bahwa ada yang menguasai seuruh kehidupan di muka bumi ini.
            Mungkin kita juga belum pernah bertemu langsung dengan Tuhan. Namun mengapa kita percaya? Mengapa doa-doa kita juga selalu dipanjatkan kepadaNya, padahal kita juga belum pernah bertemu langsung dan belum pernah bertatapan muka denganNya. Sisi sprirtualitas kita yang akan menjawabnya. Saya juga belum pernah bertemu langsung dengan Tuhan dan juga orang-orang kudus yang ada di surga, namun dengan segenap hati saya, saya percaya sepenuhnya bahwa mereka ada. Hal inilah yang juga menjadi kepercayaan manusia beriman yang lainnya, tanpa memandang agama yang dianutnya. Agama hanyalah sarana, namun semuaya mempunyai tujuan yang sama.
            Bagaimana kita mempercayai mereka yang sudah tiada dan belum pernah kita lihat bentuk fisiknya. Keyakinan hati dan ituisi yang membawa kita untuk percaya sepenuhnya pada Tuhan. Hal ini juga didukung dengan apa yang termuat di dalam kitab suci, kitab suci ajaran apapun akan mengajarkan kebaikan dan ajaran-ajaranNya dan dengan kitab suci tersebut kita bisa semakin mengenalNya. Keyakinan terhadap Tuhan diawali dengan intuisi yang kita tidak tahu kapan dimulainya keyakinan tersebut di dalam diri kita.
            Dengan adanya ajaran Tuhan, kita sebagai manusia di dunia ini juga selayaknya selalu bersandar padaNya. Doa adalah sarana komunikasi dengan Tuhan. Kepercayaan kita lah yang membuat kita yakin bahwa Dia selalu mendengar doa kita, dan kepercayaan kita lah yang membuat kita yakin bahwa Dialah sang sutradara dalam kehidupan kita. Jangan lah keimanan kita hanya menjadi mitos dalam hidup kita. Kita harus tahu dan yakin untuk apa kita perlu berdoa. Keyakinan kitalah yang akan membantu menjawab semuanya. Kita tidak perlu bertemu dengan Tuhan untuk percaya padaNya. Yang harus kita lakukan adalah senantiasa berbuat baik sesuai dengan ajarannya, karena pada dasarnya percuma jika kita selalu berdoa dengan khusyuk namun perbuatan kita tidak selaras dengan ajaranNya. Dengan hal ini, keimanan kita hanyalah akan menjadi mitos karena iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati. Semoga kita sebagai makluk Tuhan selalu percaya padaNya dan selalu menghadirkan Tuhan di dalam hati kita lewat segenap perbuatan kita terhadap Tuhan dan sesama. Berbahagialah yang tidak melihat namun percaya. Amin...

Pertanyaan :
Apakah keimanan kita itu dapt diukur? Ataukah kita tidak perlu memikirkan tersebut karena yang perlu kita lakukan adalah terus beriman dan  berbuat baik seturut kehendakNya?