Rosalia
Yenita Widyaningrum
Pend.
Matematika / 12709251052
refleksi perkuliahan ke-4
Ada tiga tradisi besar dalam sejarah perkembangan
filsafat, yaitu Sejarah Filsafat India (sekitar 2000 SM - dewasa ini), Sejarah
Filsafat Cina (sekitar 600 SM - dewasa ini), dan Sejarah Filsafat Barat (sekitar
600 SM - dewasa ini). Diantara ketiga sejarah filsafat tersebut, Sejarah
Filsafat Barat adalah basis dari kelahiran dan perkembangan ilmu, karena Filsafat
Indian dan China lebih menitikberatkan pada masalah-masalah keagamaan, dan
keselamatan hidup manusia di dunia dan kehidupan setelah kematian. Sejarah
Filsafat Barat dimulai pasa masa Yunani Kuno/Klasik.
A.
Masa Yunani Kuno/Klasik
Perkembangan
Sejarah Filsafat Barat dimulai pada masa Yunani
Kuno/Klasik (600 SM - 400 SM). Filsuf yang hidup di masa ini antara lain
adalah : Thales (± 625-545 SM), Anaximandros (sekitar 610-540 SM), Anaximenes
(sekitar 585-525 SM), Herakleitos (± 500 SM), Parmenides (515-440 SM), Phytagoras
(sekitar 500 SM). Herakleitos dan Permenides mempunyai perbedaan pandangan
tentang segala sesuatu yang ada di bumi. Herakleitos mengemukakan bahwa segala
sesuatu itu mengalir (“panta rhei”)
dan bahwa segala sesuatu yang ada itu berubah-ubah terus menerus/mengalami
perubahan, sedangkan Permenides beranggapan bahwa segala sesuatu yang ada itu
sebagai sesuatu yang tetap (tidak berubah), (Budi Setiawan : 2010).
Permenides
beranggapan bahwa “yang ada” adalah kebenaran yang tidak mungkin disangkal.
Bila ada yang menyangkalnya, maka ia akan jatuh ke dalam kontradiksi.
Pengandaian yang diberikan Permenides adalah: pertama, orang dapat mengatakan
bahwa “yang ada itu tidak ada”. Kedua, orang dapat mengatakan bahwa “yang ada”
dan yang tidak ada” itu bersama-sama ada. Kedua pengandaian ini mustahil, sebab
“yang tidak ada” tidak dapat dipikirkan dan tidak dapat dibicarakan. Pandangan
kedua adalah pandangan dari Heraklitos, yaitu “yang ada” dan “yang tidak ada”
itu sama-sama ada. Pandangan Herakleitos tersebut juga dinilai mustahil, sebab
pengandaian kedua menerima pengandaian pertama bahwa “yang tidak ada” itu ada,
padahal pengandaian yang pertama terbukti mustahil. Dengan demikian,
kesimpulannya adalah “yang tidak ada” itu tidak ada, sehingga hanya yang “ada”
yang dapat dikatakan ada.
Zaman
keemasan dari filsafat Yunani Kuno ini ada pada masa Socrates (± 470-400), Plato
(428-348 SM), dan Aristoteles (384-322
SM). Socrates adalah guru dari Plato, sehingga pemikiran-pemikiran Plato banyak
dipengaruhi oleh Socrates. Plato dikenal dengan paham idealisme. Teori yang
dikembangkan Plato adalah teori tentang ide. Dia mengungkapkan bahwa kenyataan
itu tidak lain adalah proyeksi atau bayang-bayang dari suatu dunia “ide” itu
sendiri. Dunia “ide” itu itulah yang tidak berubah/abadi, sedangkan kenyataan
yang dapat diobservasi sebagai sesuatu yang senantiasa berubah. Paham itulah
yang kemudian menyatukan perbedaan pendapat antara Herakleitos dan Permenides
tentang sesuatu yang tetap dan yang berubah.
Filsuf
yang juga terkenal pada zaman ini adalah Aristoteles. Aristoteles adalah
seorang murid Plato, namun aliran yang dianut
berbeda dengan gurunya. Jika Plato terkenal dengan aliran idealismenya,
maka Aristoteles lebih terkenal dengan aliran rasionalismenya. Jika Plato
menganggap bahwa dunia ide itu tidak berubah/abadi dan yang berubah adalah
kenyataan yang ada, maka Aristoteles menganggap bahwa ide itu tidak terletak
pada dunia yang abadi, tetapi justru terletak pada kenyataan/benda-benda itu
sendiri. Jadi, walaupun Aritoteles adalah murid Plato, mereka mempunyai
pemikiran yang berbeda. Masa ini disebut dengan abad gelap karena pihak gereja
membatasi pemikiran mereka, sehingga ilmu pengetahuan tidak bisa berkembang.
Gereja akan memberi hukuman pada mereka yang mempunyai pemikiran-pemikiran yang
bertentangan dengan doktrin gereja. Seperti pada kasus Copernicus yang dihukum
mati karena pemikirannya yang mengatakan bahwa matahari adalah pusat tata surya
(heliosentris). Pada masa itu, gereja meyakini sifat geosentris dimana pusat
tata surya adalah bumi.
B.
Masa Abad Modern
Masa
setelah masa Yunani Kuno/Klasik adalah masa
abad modern. Pada abad modern ini, pemikiran filsafat berhasil menempatkan
manusia pada tempat yang sentral dalam pandangan kehidupan, sehingga corak pemikirannya
disebut antroposentris, yaitu corak pemikiran filsafat yang mendasarkan pada
akal pikir dan pengalaman. Pada masa ini juga dikembangkan paham rasionalisme.
Tokoh yang terkenal dengan paham rasionalismenya pada masa abad modern adalah
Rene Descartes (1596 - 1650), Nicholas Malerbranche (1638-1775), De Spinoza
(1632-1677), Gottfriend Wilhelm Leibniz (1646- 1716), Christian Wolf (1679-1754),
dan Blaise Pascal (1623-1662) (Susanto, 2011 : 36 - 37). Rene Descartes adalah
tokoh yang berpengaruh dalam aliran rasionalisme ini. Paham yang terkenal dari
Rene Descartes adalah cogito ergo sum,
artinya “saya yang sedang menyangsikan, ada”. Descartes berpendapat agar
filsafat dan ilmu pengetahuan dapat diperbaharui, kita memerlukan suatu metode
yang baik, yaitu dengan menyangsikan segala-galanya atau keragu-raguan. Jadi,
kebenaran menurut Descartes yang tidak dapat disangkal adalah sebenar-benarnya
diriku yang sedang menyangsikan kebenaran itu. Sebenar-benarnya yang ada adalah
diriku yang sedang menyangsikan sesuatu yang aku pikirkan. Para filsuf aliran
rasionalisme ini menekankan pentingnya kemungkinan-kemungkinan akal budi (ratio)
dalam mengembangkan pengetahuan manusia.
Pada
abad ke 18 masa abad modern, munculah paham empirisme yang ajarannya lebih
menekankan pada pengalaman sebagai sumber pengetahuan. Tokoh yang terkenal dari
aliran empirisme antara lain adalah David Hume (1711-1776), George Berkeley (1665-1763),
John Locke (1632-1704). Aliran empirisme ini sangat bertentangan dengan aliran
rasionalisme, terutama jika dilihat dari sumber pengetahuannya. Aliran
rasionalisme lebih menekankan pada akal budi, sedangkan aliran empirisme lebih
menekankan pada pengalaman sebagai sumber pengetahuan.
Kemudian
masih pada abad modern juga, muncullah seorang filsuf yang mendamaikan
pertentangan antara rasionalisme dengan empirisme. Filsuf tersebut adalah
Immanuel Kant (1724-1804). Dengan pemikirannya, dia mengemukakan bahwa sumber
pengetahuan manusia itu diperoleh atas perpaduan antara unsur anaximenes priori yang berasal dari
rasio dan peranan aposteriori yang
berasal dari pengalaman. Teori Immanuel Knt telah menyatukan perbedaan pendangan
rasionalisme dan empirisme.
C.
Masa Abad Post Modern
Setelah
masa abad modern, pada abad ke-19 dan abad ke-20 banyak bermunculan
aliran-aliran baru dalam filsafat. Salah satu yang tidak bisa dilewatkan adalah
positivisme yang digagas oleh Aguste Comte (1798-1857). Aliran positivisme ini
hampir sama dengan empirisme, yaitu mengutamakan pengalaman sebagai sumber
pengetahuan, namun positivisme tidak menerima sumber pengetahuan melalui
pengalaman batiniah, tetapi hanya mengandalkan fakta-fakta belaka, (Susanto,
2011 : 40). Comte membagi pikiran manusia ke dalam tiga tahap, yaitu teologis,
metafisis, dan positif ilmiah. Bagi manusia modern, pengetahuan akan muncul
dengan menerapkan metode positif ilmiah, artinya setiap pemikiran hanya benar
secara ilmiah jika dapat dibuktikan dengan pengukuran-pengukuran yang jelas. Dengan
adanya hal tersebut, Comte menolak metafisis karena media pengukurannya juga
belum jelas. Comte juga menggagas fisika sosial yang sekarang berkembang dengan
nama sosiologi. Pada zaman dulu memang keberadaan ilmu alam sudah lebih mantap
daripada keberadaan ilmu sosial, maka banyak ilmu alam yang diadopsi ke dalam
ilmu-ilmu sosial. Ilmu-ilmu tersebut pada akhirnya menjadi ilmu pengetahuan
yang kita manfaatkan sampai sekarang.
Alur-alur
itulah yang ada di masa lampau. Alur-alur itu menujukkan adanya perkembangan
pemikiran manusia dari masa ke masa. Teori-teori baru yang ada akan memperbaiki
teori-teori lama yang sudah ada. Seperti Plato yang menjadi penengah bagi
perbedaan pendapat antara Hiraklitos dan Permenides dan Immanuel Kant yang
menjadi penengah bagi paham rasionalisme dan empirisme. Perbaikan tersebut pada
akhirnya semakin membawa pemikiran ke arah yang semakin modern.
Pada
masa sekarang juga banyak paham yang digagas oleh manusia di zaman ini. Teori-teori
ini dinamakan dengan teori analitik. Contoh paham yang termasuk dalam teori
analitik ini adalah pragmatism, uitilisme, capitalisme, hedonisme, instanisme,
sogokisme, dll. Kesemuanya itu adalah kebiasaan yang sudah semakin berkembang
dalam kehidupan kita sehari-hari, sehingga rasa-rasanya kesemuanya itu lekat
dengan kehidupan kita. Jadi, paham-paham yang ada dan berkembang di masyarakat dipengaruhi oleh tata cara dan gaya hidup manusia itu sendiri.
Pertanyaan
:
Bagaimana
perkembangan filsafat pada zaman dulu bisa mengarah ke dalam perkembangan
konsep matematika? Seperti Blaise Pascal (1623-1662), seorang filsuf pada
aliran rasionalisme, yang memberikan kontribusi yang besar dalam matematika.
Pustaka
Setiawan,
Budi. 2010. Sejarah Perkembangan Pemikiran Filsafat : Suatu Pengantar Kearah
Filsafat Ilmu. http://fpk.unair.ac.id/webo/.../KUL_FIL_01_FPK.pdf.
Diakses
tanggal 15 September 2012.
Susanto,
A. 2011. Filsafat Ilmu, Suatu Kajian dalam Dimensi Ontologis,
Epistemologis, dan Aksiologis. Jakarta: Bumi Aksara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar