Rosalia
Yenita Widyaningrum
Pend.
Matematika B / 12709251052
SOMBONG
= DOSA BESAR
Setiap manusia pasti mempunyai kemampuan.
Seseorang dapat menggunakan kemampuan yang dimilikinya untuk mengisi
kehidupannya dan tentunya untuk membantu sesama manusia. Kemampuan itu juga
tidak secara instan ada dalam dirinya. Manusia dapat terus berlatih dan belajar
untuk meningkatkan kemampuan dirinya. Semakin banyak belajar, kemampuannya juga
akan terus bertambah. Sebagai contoh, seseorang yang mempunyai kemampuan menyembuhkan
orang sakit, dapat mempergunakan kemampuan itu untuk dijadikan sebagai
profesinya dan juga untuk membantu orang lain yang membutuhkan bantuannya.
Kemampuannya tersebut juga tidak didapatkan secara serta merta, tetapi dia
mendapatkannya dengan cara bersekolah di jurusan kedokteran misalnya.
Semakin
banyak belajar, kemampuan setiap manusia juga semakin berkembang. Tak jarang
seseorang mempunyai lebih dari satu kemampuan atau disebut sebagai orang yang
multitalenta. Dengan kemampuan yang kita miliki, janganlah kita menjadi manusia
yang sombong. Setelah kita menjadi seorang yang hebat, janganlah juga kita
meremehkan kemampuan orang lain.
Sombong
adalah dosa besar. Dengan berbuat sombong, maka kita menganggap diri kita
adalah yang paling hebat dan tiada yang menandingi. Parahnya lagi jika kita
tidak puas dengan kemampuan kita dan berhasrat untuk mengetahui apa yang
sebenarnya melampaui batasan kita sebagai manusia, yaitu kita ingin mengetahui
rahasia-rahasia Tuhan. Mengapa manusia bisa berpikiran seperti itu? Jawabannya
karena kesombongan manusia.
Berbicara
tentang kesombongan, saya teringat dengan cerita Agustinus yang ingin
mengetahui tentang semua yang ada di dunia ini. Untuk mengatasi kebimbangannya,
dia berjalan-jalan ke pantai. Di pantai dia melihat seorang anak kecil yang
sedang mengambil air dari laut dan memindahkannya di sumur kecil yang dia buat
di pantai. Sang anak tersebut bermaksud memindahkan seluruh air laut ke dalam
sumur yang dibuatnya. Agustinus terkejut dengan hal yang dilakukan si anak
tersebut, karena tidak mungkin untuk memindahkan seluruh air laut ke dalam
sumur kecil tersebut. Kemudian anak kecil tersebut mengatakan kepada Agustinus
bahwa tidak semua hal bisa diketahui oleh manusia, termasuk apa yang menjadi
misteri Tuhan. Tidak semua hal dapat kita masukkan ke dalam pikiran kita. Perkataan
anak kecil tadi menyadarkan Agustinus bahwa dia harus mengurungkan niatnya
untuk mengetahui segala misteri Tuhan.
Jika
manusia mengalami hal tersebut, maka secepatnya dia harus segera memohon
ampunan Tuhan. Tiada satupun makhluk di dunia ini yang mampu memahami segala
misteriNya. Tuhan berada diatas segalanya. Dia mengetahui segala sesuatu yang
terjadi dan bahkan yang belum terjadi. Dialah maha segalanya. Hanya dialah yang
mempunyai unsur identitas dan tidak mempunyai kontradiksi. Maka, jika
kesombongan sudah mulai menyerang diri kita, segeralah untuk meminta maaf
kepada Sang Pencipta. Tetaplah rendah hati, selalu beriman kepada Tuhan, karena
Dialah yang selalu merestui usaha kita.
Pertanyaan :
Pak, bagaimana kita
memandang seorang peramal yang dapat meramalkan apa yang akan terjadi di masa
depan? Apakah hal itu dipandang sebagi kemampuan lebih, atau dipandang sebagai
hal yang mendahului kuasa Tuhan? Terimakasih pak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar