Sabtu, 15 September 2012

SOMBONG = DOSA BESAR


Rosalia Yenita Widyaningrum
Pend. Matematika B / 12709251052

SOMBONG = DOSA BESAR

 Setiap manusia pasti mempunyai kemampuan. Seseorang dapat menggunakan kemampuan yang dimilikinya untuk mengisi kehidupannya dan tentunya untuk membantu sesama manusia. Kemampuan itu juga tidak secara instan ada dalam dirinya. Manusia dapat terus berlatih dan belajar untuk meningkatkan kemampuan dirinya. Semakin banyak belajar, kemampuannya juga akan terus bertambah. Sebagai contoh, seseorang yang mempunyai kemampuan menyembuhkan orang sakit, dapat mempergunakan kemampuan itu untuk dijadikan sebagai profesinya dan juga untuk membantu orang lain yang membutuhkan bantuannya. Kemampuannya tersebut juga tidak didapatkan secara serta merta, tetapi dia mendapatkannya dengan cara bersekolah di jurusan kedokteran misalnya.
Semakin banyak belajar, kemampuan setiap manusia juga semakin berkembang. Tak jarang seseorang mempunyai lebih dari satu kemampuan atau disebut sebagai orang yang multitalenta. Dengan kemampuan yang kita miliki, janganlah kita menjadi manusia yang sombong. Setelah kita menjadi seorang yang hebat, janganlah juga kita meremehkan kemampuan orang lain.
Sombong adalah dosa besar. Dengan berbuat sombong, maka kita menganggap diri kita adalah yang paling hebat dan tiada yang menandingi. Parahnya lagi jika kita tidak puas dengan kemampuan kita dan berhasrat untuk mengetahui apa yang sebenarnya melampaui batasan kita sebagai manusia, yaitu kita ingin mengetahui rahasia-rahasia Tuhan. Mengapa manusia bisa berpikiran seperti itu? Jawabannya karena kesombongan manusia.
Berbicara tentang kesombongan, saya teringat dengan cerita Agustinus yang ingin mengetahui tentang semua yang ada di dunia ini. Untuk mengatasi kebimbangannya, dia berjalan-jalan ke pantai. Di pantai dia melihat seorang anak kecil yang sedang mengambil air dari laut dan memindahkannya di sumur kecil yang dia buat di pantai. Sang anak tersebut bermaksud memindahkan seluruh air laut ke dalam sumur yang dibuatnya. Agustinus terkejut dengan hal yang dilakukan si anak tersebut, karena tidak mungkin untuk memindahkan seluruh air laut ke dalam sumur kecil tersebut. Kemudian anak kecil tersebut mengatakan kepada Agustinus bahwa tidak semua hal bisa diketahui oleh manusia, termasuk apa yang menjadi misteri Tuhan. Tidak semua hal dapat kita masukkan ke dalam pikiran kita. Perkataan anak kecil tadi menyadarkan Agustinus bahwa dia harus mengurungkan niatnya untuk mengetahui segala misteri Tuhan.
Jika manusia mengalami hal tersebut, maka secepatnya dia harus segera memohon ampunan Tuhan. Tiada satupun makhluk di dunia ini yang mampu memahami segala misteriNya. Tuhan berada diatas segalanya. Dia mengetahui segala sesuatu yang terjadi dan bahkan yang belum terjadi. Dialah maha segalanya. Hanya dialah yang mempunyai unsur identitas dan tidak mempunyai kontradiksi. Maka, jika kesombongan sudah mulai menyerang diri kita, segeralah untuk meminta maaf kepada Sang Pencipta. Tetaplah rendah hati, selalu beriman kepada Tuhan, karena Dialah yang selalu merestui usaha kita.

Pertanyaan :
Pak, bagaimana kita memandang seorang peramal yang dapat meramalkan apa yang akan terjadi di masa depan? Apakah hal itu dipandang sebagi kemampuan lebih, atau dipandang sebagai hal yang mendahului kuasa Tuhan? Terimakasih pak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar