ANTARA HATI DAN PIKIRAN
Setiap manusia yang ada di dunia ini
terlahir dengan kemampuan berfikir dan tidak serta merta kemampuan itu menjadi
besar dengan sendirinya. Kemampuan berfikir setiap manusia juga bertambah
seiring dengan perkembangan usia. Semakin tua usia seseorang, maka kemampuan
berfikirnya juga bertambah semakin tinggi. Namun hal itu juga dipengaruhi juga
oleh pengalaman dan pengetahuan dari masing-masing individu tersebut. Semakin
banyak pengetahuan dan pengalaman yang telah diperoleh, semakin bertambah pula
kemampuannya untuk berfikir. Dengan kemampuan tersebut, manusia mulai
memikirkan kejadian atau sesuatu yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Dengan
adanya olah pikiran yang dilakukan oleh individu tersebut, maka dapat dikatakan
bahwa individu tersebut telah berfilsafat. Setiap orang bebas untuk berfilsafat
karena setiap orang memang sudah dibekali kemampuan untuk berfikir.
Filsafat dapat dikatakan sebagai aktivitas olah fikir
manusia. Dalam filsafat terdapat metode dan alat yang digunakan sebagai media
bagi individu untuk berolah fikir. Metode yang digunakan adalah hermenetika
atau yang dikenal dengan menerangkan sesuatu yang bersifat dalam sedalam-dalamnya
dan luas seluas-luasnya. Hermenetika digunakan sebagai metode dalam berolah
fikir karena hakikat dari filsafat adalah mendefinisikan dan juga menerangkan
sesuatu kepada orang lain dengan bahasa yang mudah untuk dipahami, sehingga
pesan yang dimaksudkan dapat disampaikan dengan baik. Alat yang digunakan dalam
berfilsafat berupa bahasa analog. Bahasa analog adalah bahasa yang tingkatanya
lebih tinggi dari bahasa kiasan. Dalam bahasa analog ini kita tidak secara
langsung menyebutkan subyek yang dimaksud, namun kita menggantinya dengan kata
ganti yang lain.
Dalam berfilsafat tidak hanya hal-hal besar saja yang
dapat diamati. Hal-hal sepele juga dapat menjadi perhatian dalam berfilsafat.
Sebagai contoh, kita mengamati tingkah laku dua ekor semut yang sedang
berjalan beriringan di dinding. Filsafat tidak terbatas pada ilmu-ilmu
tertentu, namun filsafat mewakili semua ilmu yang ada, mewakili sesuatu yang
ada dan yang mungkin ada. Filsafat mewakili semua yang ada, yakni sesuatu yang
kita ketahui. Filsafat juga mewakili hal yang mungkin ada, yakni sesuatu yang
belum kita yakini keberadaanya.
Orang atheis adalah orang yang tidak mengakui adanya
Tuhan dalam kehidupan mereka. Mereka tidak mengakui adanya Tuhan karena mereka
tidak percaya bahwa Tuhan itu ada. Mereka tidak dapat menjelaskan Tuhan dengan
pikiran mereka dan mereka juga belum pernah bertemu Tuhan secara nyata dalam
kehidupan mereka. Bagi seorang atheis, Tuhan adalah sesuatu yang mungkin ada.
Masalah
tentang Tuhan adalah masalah tentang kepercayaan. Jika seseorang itu percaya
Tuhan itu ada, maka Tuhan itu memang ada, namun jika seseorang tidak percaya
akan adanya Tuhan, maka Tuhan itu mungkin ada. Penjelasan tentang keberadaan
Tuhan sukar jika dijelaskan dengan kata-kata. Sepertinya tidak ada kata-kata
yang tepat untuk menggambarkannya. Mereka yang percaya kepada Tuhan, termasuk
saya, tidak hanya menggunakan pikiran untuk mempercayai apa yang saya yakini
tentang Tuhan, tapi saya juga menggunakan hati. Penjelasan tentang Tuhan tidak
akan bisa berjalan jika hanya dijelaskan dengan menggunakan kemampuan pikiran
saja, serta kebenaran tentang Tuhan adalah sesuatu yang absolut. Saya percaya
dengan sepenuh hati saya bahwa Tuhan itu memang ada. Dengan demikian, kemampuan
pikiran saja tidak cukup untuk menjelaskan sesuatu. Kemampuan pikiran dan hati
harus bekerja dengan selaras agar segala yang ada dapat dipahami dengan
seimbang.
Hal yang sederhana, kita mengatakan bahwa makanan itu
enak. Kita mengatakan makanan itu enak karena kita percaya bahwa makanan itu
enak. Kita mengatakan minuman itu manis karena kita percaya bahwa minuman itu
manis. Kita percaya bahwa Tuhan itu ada, karena kita percaya bahwa Dia ada.
Hati dan pikiran bekerja bersama-sama untuk membuat kesimpulannya. Kepercayaan
kita terhadap sesuatu telah menjadi sugesti pada pikiran kita untuk menyetujui hal
yang sama. Namun bagaimana jika hal yang kita percaya dengan sepenuh hati
ternyata tidak sesuai dengan pikiran kita?
Misal, saya percaya
dengan sepenuh hati bahwa komputer saya dalam kondisi baik-baik saja dan dapat
bekerja dengan baik. Dengan kepercayaan itu, saya berpikir bahwa saya dapat
menggunakan komputer untuk mengerjakan tugas. Namun kenyataannya, setelah saya
mencoba, komputer saya tidak mau menyala. Hal itu menandakan komputer saya
dalam keadaan yang tidak baik. Ternyata kepercayaan yang saya yakini tadi
salah. Apakah itu merupakan suatu kesalahan dalam berolah fikir? Bagaimana jika
ternyata hal yang saya yakini tersebut ternyata salah? Apa akibatnya jika
pikiran dan hati saya tidak berjalan secara selaras, hati saya percaya, tapi
pikiran saya tidak?
Rosalia Yenita Widyaningrum
Pendidikan Matematika B / 12709251052
Tidak ada komentar:
Posting Komentar