Kamis, 06 September 2012

ANTARA HATI DAN PIKIRAN (refleksi kuliah filsafat ilmu)



ANTARA HATI DAN PIKIRAN
            Setiap manusia yang ada di dunia ini terlahir dengan kemampuan berfikir dan tidak serta merta kemampuan itu menjadi besar dengan sendirinya. Kemampuan berfikir setiap manusia juga bertambah seiring dengan perkembangan usia. Semakin tua usia seseorang, maka kemampuan berfikirnya juga bertambah semakin tinggi. Namun hal itu juga dipengaruhi juga oleh pengalaman dan pengetahuan dari masing-masing individu tersebut. Semakin banyak pengetahuan dan pengalaman yang telah diperoleh, semakin bertambah pula kemampuannya untuk berfikir. Dengan kemampuan tersebut, manusia mulai memikirkan kejadian atau sesuatu yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Dengan adanya olah pikiran yang dilakukan oleh individu tersebut, maka dapat dikatakan bahwa individu tersebut telah berfilsafat. Setiap orang bebas untuk berfilsafat karena setiap orang memang sudah dibekali kemampuan untuk berfikir.
            Filsafat dapat dikatakan sebagai aktivitas olah fikir manusia. Dalam filsafat terdapat metode dan alat yang digunakan sebagai media bagi individu untuk berolah fikir. Metode yang digunakan adalah hermenetika atau yang dikenal dengan menerangkan sesuatu yang bersifat dalam sedalam-dalamnya dan luas seluas-luasnya. Hermenetika digunakan sebagai metode dalam berolah fikir karena hakikat dari filsafat adalah mendefinisikan dan juga menerangkan sesuatu kepada orang lain dengan bahasa yang mudah untuk dipahami, sehingga pesan yang dimaksudkan dapat disampaikan dengan baik. Alat yang digunakan dalam berfilsafat berupa bahasa analog. Bahasa analog adalah bahasa yang tingkatanya lebih tinggi dari bahasa kiasan. Dalam bahasa analog ini kita tidak secara langsung menyebutkan subyek yang dimaksud, namun kita menggantinya dengan kata ganti yang lain.
            Dalam berfilsafat tidak hanya hal-hal besar saja yang dapat diamati. Hal-hal sepele juga dapat menjadi perhatian dalam berfilsafat. Sebagai contoh, kita mengamati tingkah laku dua ekor semut yang sedang berjalan beriringan di dinding. Filsafat tidak terbatas pada ilmu-ilmu tertentu, namun filsafat mewakili semua ilmu yang ada, mewakili sesuatu yang ada dan yang mungkin ada. Filsafat mewakili semua yang ada, yakni sesuatu yang kita ketahui. Filsafat juga mewakili hal yang mungkin ada, yakni sesuatu yang belum kita yakini keberadaanya.
            Orang atheis adalah orang yang tidak mengakui adanya Tuhan dalam kehidupan mereka. Mereka tidak mengakui adanya Tuhan karena mereka tidak percaya bahwa Tuhan itu ada. Mereka tidak dapat menjelaskan Tuhan dengan pikiran mereka dan mereka juga belum pernah bertemu Tuhan secara nyata dalam kehidupan mereka. Bagi seorang atheis, Tuhan adalah sesuatu yang mungkin ada.
Masalah tentang Tuhan adalah masalah tentang kepercayaan. Jika seseorang itu percaya Tuhan itu ada, maka Tuhan itu memang ada, namun jika seseorang tidak percaya akan adanya Tuhan, maka Tuhan itu mungkin ada. Penjelasan tentang keberadaan Tuhan sukar jika dijelaskan dengan kata-kata. Sepertinya tidak ada kata-kata yang tepat untuk menggambarkannya. Mereka yang percaya kepada Tuhan, termasuk saya, tidak hanya menggunakan pikiran untuk mempercayai apa yang saya yakini tentang Tuhan, tapi saya juga menggunakan hati. Penjelasan tentang Tuhan tidak akan bisa berjalan jika hanya dijelaskan dengan menggunakan kemampuan pikiran saja, serta kebenaran tentang Tuhan adalah sesuatu yang absolut. Saya percaya dengan sepenuh hati saya bahwa Tuhan itu memang ada. Dengan demikian, kemampuan pikiran saja tidak cukup untuk menjelaskan sesuatu. Kemampuan pikiran dan hati harus bekerja dengan selaras agar segala yang ada dapat dipahami dengan seimbang.
            Hal yang sederhana, kita mengatakan bahwa makanan itu enak. Kita mengatakan makanan itu enak karena kita percaya bahwa makanan itu enak. Kita mengatakan minuman itu manis karena kita percaya bahwa minuman itu manis. Kita percaya bahwa Tuhan itu ada, karena kita percaya bahwa Dia ada. Hati dan pikiran bekerja bersama-sama untuk membuat kesimpulannya. Kepercayaan kita terhadap sesuatu telah menjadi sugesti pada pikiran kita untuk menyetujui hal yang sama. Namun bagaimana jika hal yang kita percaya dengan sepenuh hati ternyata tidak sesuai dengan pikiran kita?
Misal, saya percaya dengan sepenuh hati bahwa komputer saya dalam kondisi baik-baik saja dan dapat bekerja dengan baik. Dengan kepercayaan itu, saya berpikir bahwa saya dapat menggunakan komputer untuk mengerjakan tugas. Namun kenyataannya, setelah saya mencoba, komputer saya tidak mau menyala. Hal itu menandakan komputer saya dalam keadaan yang tidak baik. Ternyata kepercayaan yang saya yakini tadi salah. Apakah itu merupakan suatu kesalahan dalam berolah fikir? Bagaimana jika ternyata hal yang saya yakini tersebut ternyata salah? Apa akibatnya jika pikiran dan hati saya tidak berjalan secara selaras, hati saya percaya, tapi pikiran saya tidak?

Rosalia Yenita Widyaningrum
Pendidikan Matematika B / 12709251052

Tidak ada komentar:

Posting Komentar