Rosalia
Yenita Widyaningrum
Pendidikan
Matematika B / 12709251052
Keberhasilan suatu bangsa tidak akan
terlepas dari sistem pendidikan yang ada di negara tersebut. Sumber Daya
Manusia yang berkualitas akan menjadi donatur bagi perkembangan suatu bangsa ke
arah pembangunan yang lebih baik. Berkualitas yang dimaksudkan adalah
berkualitas bukan dari segi IQ nya saja, namun juga berkualitas dari segi EQ
dan juga spiritualnya. Akan sangat bijak jika orang itu pandai bukan dari
ilmunya saja, namun juga pandai dari segi sikap dan spiritualnya. Dalam hal
ini, intuisi menjadi sangat penting untuk dikembangkan. Intuisi mengambil peran
yang besar dalam perkembangan manusia. 90% pikiran anak-anak dipengaruhi oleh
intuisi, dimana anak-anak akan berusaha
untuk mengenali segala sesuatu yang ada di lingkungannya dengan
menggunakan intuisi. Anak-anak belajar dengan caranya sendiri dan anak-anak belajar
lewat dunianya yaitu dunia bermain. Dari permainan-permaninan itu anak-anak juga sedang berada dalam proses
belajar. Singkatnya, anak-anak memang seharusnya belajar dengan cara yang
memang sesuai dengan tingkat pikir dan juga dunianya.
Alangkah baiknya jika dunia
pendidikan di negara kita juga dikomandani oleh sesoorang yang memang
berkompeten di bidang pendidikan. Kenyataan yang terjadi di negara kita bahwa
sang komandan dari sistem pendidikan di Indonesia adalah orang yang berasal
dari Ilmu dasar non kependidikan. Bagaimana jadinya orang yang kurang
berkompeten di bidang pendidikan mengatur masalah pendidikan dalam suatu
lingkup negara? Pada akhirnya banyak kebijakan yang melenceng dari
dasarnya. Di negara Powernow Amerika,
anak-anak sudah dituntut untuk mempunyai pemikiran layaknya seorang
matematikawan, padahal anak-anak pastilah belum siap untuk diberikan hal
seperti itu. Dunia anak adalah bermain, biarlah mereka juga akan belajar lewat
dunianya. Dari segi filsafat, anak-anak dengan perlakuan yang demikian akan
kehilangan intuisinya. Padahal dari intuisi anak-anak juga akan berkembang
kepribadiannya.
Pendidikan matematika di negara kita
juga dikuasai oleh powernow. Kurikulum yang berkembang juga akan semakin
memantapkan langkah powernow. Sang pembuat kurikulum di negara ini juga berasal
dari golongan ilmu dasar, yang merupakan bagian dari langkah powermow. Golongan
ilmu dasar akan mengutamakan kemampuan ilmu yang diperoleh tanpa melihat
subjeknya. Seperti contoh, kebijakan menteri pendidikan yang akan mengganti
kurilukulum dengan basis teknologi. Saya merasa dengan hal tersebut anak-anak
akan menonjol di bidang ilmunya, namun apakah kemampuan intuisinya juga akan
berkembang? Bagi kaum ilmu dasar, mungkin ketrampilam menyanyi, menari dan
ketrampilan yang lainnya tidak penting untuk diterapkan dalam pendidikan,
padahal anak-anak juga perlu menggapai kesenangannya. Apa jadinya jika
anak-anak sudah dilatih untuk kehilangan intuisinya dan hanya memikirkan ilmu
intelektualnya saja? Apalah anak-anak nantinya akan tumbuh menjadi anak-anak yang
berintelektual tinggi namun perasaan dan kepribadiaany akan bernilai nol?
Alangkah seimbangnya jika kaum murni
akan berdampingan degan kaum pendidikan, sehingga kebijakan yang dikeluarkan juga bukanlah
kebijakan yang hanya memancarkan kekuasan powernow. Kita tidak menyalahkan
berkembangnya ilmu-ilmu dasar, namun yang disayangkan adalah mengapa kaum ilmu
dasar juga mencampuri urusan pengambilan kebijakan di bidang pendidikan yang
kiya tahu mereka tidak berkompeten di bidang itu. Akibatnya kebijakan yang
diambil pun tidak memperhatikan unsur psikologis pendidikan subyek didik. Dari
segi filsafatnya, kebijakan pendidikan yang diambil belum memperhatikan sisi
intuisi siswa. Idealnya dalam hal pendidikan, ilmu murni harusnya menjadi
pendukung ilmu pendidikan dan ilmu pendidikan yang menjadi komandannya. Tetapi
yang terjadi sekarang adalah ilmu murni yang menjadi komandaanya, dan
pendidikan menjadi hal sampinganya.
Sangatlah sulit untuk terbebas dari
kekuasaan powernow, karena kita juga masih bergantung pada kekuasaan mereka.
Kita tidak bisa lepas dari produk-produk teknologi yang ada. Dalam dunia
pendidikan, kekuasaan pun masih dipegang leh kaum powernow. Mungkin di negara
kita, sisi pendidikan akan tetap hanya menjadi bagian dari kekuasaan ilmu dasar.
Untuk meminimalisir hal tersebut, tugas kita sebagai pendidik adalah tetap
berperan aktif dalam menciptakan strategi dalam menciptakan pembelajaran yang
seimbang antara teori dan prakteknya. Kita sebagai guru juga tidak hanya
mengajar, namun juga harus mendidik. Kita harus menjadi benteng pertahanan agar
intuisi siswa tidak hilang begitu saja termakan oleh kekuasaan powernow. Kita
tentunya juga tidak rela jika bangsa ini hanya intelektualnya saja, yang hanya
pintar di otak tapi tidak bisa mengolah rasa. Sangat ideal jika sumber daya
manusia yang ada tidak hanya pintar secara ilmunya, tapi juga masih bisa
mengembangkan sikap-sikap yang baik.
Semoga refleksi ini dapat dijadikan
sebagai arah jalan kita dalam bersikap sebagai guru yang baik, karena kita bukan
guru instan yang hanya mendapatkan bimbingan dua bulan untuk menjadi guru. Semoga
bermanfaat.
pertanyaan :
1. Langkah konkrit apakah yang dapat dilakukan guru agar intuisi siswa tidak hilang begitu saja, karena kenyataannya guru harus mengejar materi yang cukup banyak dengan waktu yang singkat?