Senin, 01 Oktober 2012

ALUR-ALUR ALIRAN FILSAFAT


Rosalia Yenita Widyaningrum
Pend. Matematika / 12709251052
refleksi perkuliahan ke-4


            Ada tiga tradisi besar dalam sejarah perkembangan filsafat, yaitu Sejarah Filsafat India (sekitar 2000 SM - dewasa ini), Sejarah Filsafat Cina (sekitar 600 SM - dewasa ini), dan Sejarah Filsafat Barat (sekitar 600 SM - dewasa ini). Diantara ketiga sejarah filsafat tersebut, Sejarah Filsafat Barat adalah basis dari kelahiran dan perkembangan ilmu, karena Filsafat Indian dan China lebih menitikberatkan pada masalah-masalah keagamaan, dan keselamatan hidup manusia di dunia dan kehidupan setelah kematian. Sejarah Filsafat Barat dimulai pasa masa Yunani Kuno/Klasik.

A. Masa Yunani Kuno/Klasik
Perkembangan Sejarah Filsafat Barat dimulai pada masa Yunani Kuno/Klasik (600 SM - 400 SM). Filsuf yang hidup di masa ini antara lain adalah : Thales (± 625-545 SM), Anaximandros (sekitar 610-540 SM), Anaximenes (sekitar 585-525 SM), Herakleitos (± 500 SM), Parmenides (515-440 SM), Phytagoras (sekitar 500 SM). Herakleitos dan Permenides mempunyai perbedaan pandangan tentang segala sesuatu yang ada di bumi. Herakleitos mengemukakan bahwa segala sesuatu itu mengalir (“panta rhei”) dan bahwa segala sesuatu yang ada itu berubah-ubah terus menerus/mengalami perubahan, sedangkan Permenides beranggapan bahwa segala sesuatu yang ada itu sebagai sesuatu yang tetap (tidak berubah), (Budi Setiawan : 2010).
Permenides beranggapan bahwa “yang ada” adalah kebenaran yang tidak mungkin disangkal. Bila ada yang menyangkalnya, maka ia akan jatuh ke dalam kontradiksi. Pengandaian yang diberikan Permenides adalah: pertama, orang dapat mengatakan bahwa “yang ada itu tidak ada”. Kedua, orang dapat mengatakan bahwa “yang ada” dan yang tidak ada” itu bersama-sama ada. Kedua pengandaian ini mustahil, sebab “yang tidak ada” tidak dapat dipikirkan dan tidak dapat dibicarakan. Pandangan kedua adalah pandangan dari Heraklitos, yaitu “yang ada” dan “yang tidak ada” itu sama-sama ada. Pandangan Herakleitos tersebut juga dinilai mustahil, sebab pengandaian kedua menerima pengandaian pertama bahwa “yang tidak ada” itu ada, padahal pengandaian yang pertama terbukti mustahil. Dengan demikian, kesimpulannya adalah “yang tidak ada” itu tidak ada, sehingga hanya yang “ada” yang dapat dikatakan ada.

Zaman keemasan dari filsafat Yunani Kuno ini ada pada masa Socrates (± 470-400), Plato (428-348 SM), dan Aristoteles (384-322 SM). Socrates adalah guru dari Plato, sehingga pemikiran-pemikiran Plato banyak dipengaruhi oleh Socrates. Plato dikenal dengan paham idealisme. Teori yang dikembangkan Plato adalah teori tentang ide. Dia mengungkapkan bahwa kenyataan itu tidak lain adalah proyeksi atau bayang-bayang dari suatu dunia “ide” itu sendiri. Dunia “ide” itu itulah yang tidak berubah/abadi, sedangkan kenyataan yang dapat diobservasi sebagai sesuatu yang senantiasa berubah. Paham itulah yang kemudian menyatukan perbedaan pendapat antara Herakleitos dan Permenides tentang sesuatu yang tetap dan yang berubah.
Filsuf yang juga terkenal pada zaman ini adalah Aristoteles. Aristoteles adalah seorang murid Plato, namun aliran yang dianut  berbeda dengan gurunya. Jika Plato terkenal dengan aliran idealismenya, maka Aristoteles lebih terkenal dengan aliran rasionalismenya. Jika Plato menganggap bahwa dunia ide itu tidak berubah/abadi dan yang berubah adalah kenyataan yang ada, maka Aristoteles menganggap bahwa ide itu tidak terletak pada dunia yang abadi, tetapi justru terletak pada kenyataan/benda-benda itu sendiri. Jadi, walaupun Aritoteles adalah murid Plato, mereka mempunyai pemikiran yang berbeda. Masa ini disebut dengan abad gelap karena pihak gereja membatasi pemikiran mereka, sehingga ilmu pengetahuan tidak bisa berkembang. Gereja akan memberi hukuman pada mereka yang mempunyai pemikiran-pemikiran yang bertentangan dengan doktrin gereja. Seperti pada kasus Copernicus yang dihukum mati karena pemikirannya yang mengatakan bahwa matahari adalah pusat tata surya (heliosentris). Pada masa itu, gereja meyakini sifat geosentris dimana pusat tata surya adalah bumi.

B. Masa Abad Modern
Masa setelah masa Yunani Kuno/Klasik adalah masa abad modern. Pada abad modern ini, pemikiran filsafat berhasil menempatkan manusia pada tempat yang sentral dalam pandangan kehidupan, sehingga corak pemikirannya disebut antroposentris, yaitu corak pemikiran filsafat yang mendasarkan pada akal pikir dan pengalaman. Pada masa ini juga dikembangkan paham rasionalisme. Tokoh yang terkenal dengan paham rasionalismenya pada masa abad modern adalah Rene Descartes (1596 - 1650), Nicholas Malerbranche (1638-1775), De Spinoza (1632-1677), Gottfriend Wilhelm Leibniz (1646- 1716), Christian Wolf (1679-1754), dan Blaise Pascal (1623-1662) (Susanto, 2011 : 36 - 37). Rene Descartes adalah tokoh yang berpengaruh dalam aliran rasionalisme ini. Paham yang terkenal dari Rene Descartes adalah cogito ergo sum, artinya “saya yang sedang menyangsikan, ada”. Descartes berpendapat agar filsafat dan ilmu pengetahuan dapat diperbaharui, kita memerlukan suatu metode yang baik, yaitu dengan menyangsikan segala-galanya atau keragu-raguan. Jadi, kebenaran menurut Descartes yang tidak dapat disangkal adalah sebenar-benarnya diriku yang sedang menyangsikan kebenaran itu. Sebenar-benarnya yang ada adalah diriku yang sedang menyangsikan sesuatu yang aku pikirkan. Para filsuf aliran rasionalisme ini menekankan pentingnya kemungkinan-kemungkinan akal budi (ratio) dalam mengembangkan pengetahuan manusia.
Pada abad ke 18 masa abad modern, munculah paham empirisme yang ajarannya lebih menekankan pada pengalaman sebagai sumber pengetahuan. Tokoh yang terkenal dari aliran empirisme antara lain adalah David  Hume (1711-1776), George Berkeley (1665-1763), John Locke (1632-1704). Aliran empirisme ini sangat bertentangan dengan aliran rasionalisme, terutama jika dilihat dari sumber pengetahuannya. Aliran rasionalisme lebih menekankan pada akal budi, sedangkan aliran empirisme lebih menekankan pada pengalaman sebagai sumber pengetahuan.
Kemudian masih pada abad modern juga, muncullah seorang filsuf yang mendamaikan pertentangan antara rasionalisme dengan empirisme. Filsuf tersebut adalah Immanuel Kant (1724-1804). Dengan pemikirannya, dia mengemukakan bahwa sumber pengetahuan manusia itu diperoleh atas perpaduan antara unsur anaximenes priori yang berasal dari rasio dan peranan aposteriori yang berasal dari pengalaman. Teori Immanuel Knt telah menyatukan perbedaan pendangan rasionalisme dan empirisme.

C. Masa Abad Post Modern
Setelah masa abad modern, pada abad ke-19 dan abad ke-20 banyak bermunculan aliran-aliran baru dalam filsafat. Salah satu yang tidak bisa dilewatkan adalah positivisme yang digagas oleh Aguste Comte (1798-1857). Aliran positivisme ini hampir sama dengan empirisme, yaitu mengutamakan pengalaman sebagai sumber pengetahuan, namun positivisme tidak menerima sumber pengetahuan melalui pengalaman batiniah, tetapi hanya mengandalkan fakta-fakta belaka, (Susanto, 2011 : 40). Comte membagi pikiran manusia ke dalam tiga tahap, yaitu teologis, metafisis, dan positif ilmiah. Bagi manusia modern, pengetahuan akan muncul dengan menerapkan metode positif ilmiah, artinya setiap pemikiran hanya benar secara ilmiah jika dapat dibuktikan dengan pengukuran-pengukuran yang jelas. Dengan adanya hal tersebut, Comte menolak metafisis karena media pengukurannya juga belum jelas. Comte juga menggagas fisika sosial yang sekarang berkembang dengan nama sosiologi. Pada zaman dulu memang keberadaan ilmu alam sudah lebih mantap daripada keberadaan ilmu sosial, maka banyak ilmu alam yang diadopsi ke dalam ilmu-ilmu sosial. Ilmu-ilmu tersebut pada akhirnya menjadi ilmu pengetahuan yang kita manfaatkan sampai sekarang.
Alur-alur itulah yang ada di masa lampau. Alur-alur itu menujukkan adanya perkembangan pemikiran manusia dari masa ke masa. Teori-teori baru yang ada akan memperbaiki teori-teori lama yang sudah ada. Seperti Plato yang menjadi penengah bagi perbedaan pendapat antara Hiraklitos dan Permenides dan Immanuel Kant yang menjadi penengah bagi paham rasionalisme dan empirisme. Perbaikan tersebut pada akhirnya semakin membawa pemikiran ke arah yang semakin modern.
Pada masa sekarang juga banyak paham yang digagas oleh manusia di zaman ini. Teori-teori ini dinamakan dengan teori analitik. Contoh paham yang termasuk dalam teori analitik ini adalah pragmatism, uitilisme, capitalisme, hedonisme, instanisme, sogokisme, dll. Kesemuanya itu adalah kebiasaan yang sudah semakin berkembang dalam kehidupan kita sehari-hari, sehingga rasa-rasanya kesemuanya itu lekat dengan kehidupan kita. Jadi, paham-paham yang ada dan berkembang di masyarakat dipengaruhi oleh tata cara dan gaya hidup manusia itu sendiri. 

Pertanyaan :
Bagaimana perkembangan filsafat pada zaman dulu bisa mengarah ke dalam perkembangan konsep matematika? Seperti Blaise Pascal (1623-1662), seorang filsuf pada aliran rasionalisme, yang memberikan kontribusi yang besar dalam matematika.

Pustaka
Setiawan, Budi. 2010. Sejarah Perkembangan Pemikiran Filsafat : Suatu Pengantar Kearah Filsafat Ilmu. http://fpk.unair.ac.id/webo/.../KUL_FIL_01_FPK.pdf. Diakses tanggal 15 September 2012.
Susanto, A. 2011. Filsafat Ilmu, Suatu Kajian dalam Dimensi Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologis. Jakarta: Bumi Aksara.
Wikipedia. http://id.wikipedia.org/wiki/Parmenides. Diakses tanggal 29 September 2012.